KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Sosok atlet muda asal Karo, Indra Pipin Siregar, mencuri perhatian publik usai membawa tim cricket putra Sumatera Utara (Sumut) meraih medali emas di ajang PON Aceh–Sumut 2024. Cowok yang akrab disapa Pipin ini dinilai sebagai sosok strategis yang mampu menghidupkan permainan tim lewat ide-ide cemerlangnya sebagai kapten.
Laga final super sixes yang mempertemukan Sumut melawan tim kuat Jakarta menjadi bukti kualitas kepemimpinannya. Bermain tenang dan penuh perhitungan, Pipin membuat keputusan krusial terkait rotasi bowler dan penempatan pemain di lapangan. Hasilnya, Sumut berhasil menumbangkan Jakarta dengan skor tipis 41-38 dan keluar sebagai juara nasional.
“Setiap posisi di lapangan punya peran penting, dan sebagai kapten saya harus tahu kapan dan siapa yang harus bermain di momen penting. Kami sudah pelajari pola lawan sejak babak penyisihan,” ujar Pipin usai pertandingan.
Tak hanya mempersembahkan medali emas, atlet kelahiran 26 September 2000 ini juga menyumbang dua medali perunggu untuk kontingen Sumut di nomor lain. Torehan ini menjadikannya sebagai salah satu atlet andalan dengan kontribusi nyata dalam sejarah cricket Sumut.
Pipin bukan hanya atlet, ia juga alumni Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Medan (Unimed). Anak ketiga dari empat bersaudara ini berasal dari Desa Lau Simomo, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo—daerah yang belum banyak dikenal sebagai lumbung atlet cricket.
“Awalnya saya diajak senior di UKM cricket kampus, bang Teguh. Jujur, dulu sama sekali nggak ngerti cricket. Tapi makin lama makin suka, apalagi setelah tahu cricket bakal dipertandingkan di PON 2024,” ujarnya.
Tekadnya semakin kuat saat kedua orang tuanya, Marakarma Siregar dan Hilleria br Samosir, memberikan izin penuh selama dua tahun untuk fokus latihan. Latihan keras mulai pukul 05.00 hingga 18.00 WIB dijalaninya dengan penuh semangat, meski awalnya menguras fisik dan mental.
“Tiap hari capek, apalagi harus bagi waktu sama kuliah. Tapi semua kelelahan hilang karena teman satu tim sudah kayak keluarga. Selalu ada cerita dan pelajaran baru tiap hari,” tambah atlet yang mengidolakan legenda cricket Jun Munthe ini.
Dengan tinggi badan 170 cm dan berat 65 kg, Pipin menjadi tumpuan tim baik secara teknis maupun moral. Ia tidak hanya bertugas memimpin permainan, tetapi juga menjadi penyemangat saat rekan-rekannya mulai kelelahan atau kehilangan fokus.
“Raihan emas ini bukan cuma untuk saya, tapi untuk masyarakat Sumut, buat orang tua saya, dan untuk semua yang dulu meremehkan. Saya ingin buktikan, kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil,” tegasnya.
BACA JUGA: Siswi MAN 2 Deliserdang Wakili Indonesia di Malaysia Open Fencing Championship 2025
Pipin juga menyampaikan rasa terima kasih kepada PCI Sumut dan KONI Sumut, terutama kepada Wangsa Amin (Ketua PCI Sumut), Abdul Hakim Siregar (Sekretaris PCI Sumut), dan John Ismadi Lubis (Ketua KONI Sumut) yang telah memberikan dukungan penuh selama persiapan menuju PON.
Dengan prestasi ini, Pipin resmi menorehkan namanya dalam sejarah olahraga Sumatera Utara. Sebuah pencapaian luar biasa dari seorang anak desa yang mengubah kerja keras menjadi medali dan impian menjadi kenyataan. (KSC)








