Indonesia Hadapi Varian Omicron, Jokowi Terapkan Strategi Berbeda

Presiden Jokowi: PPKM Mikro Kebijakan Paling Tepat untuk Saat Ini
Presiden Jokowi (Foto: BPMI Setpres)

Indonesia Dalam Kondisi Rawan

Ahli Epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan meskipun biasanya dicirikan dengan gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali, infeksi omicron bukan berarti tidak berbahaya. Menurutnya, dampak omicron di setiap wilayah atau negara akan berbeda, dan salah satunya bergantung kepada tingkat imunitas di negara tersebut.
Semakin kecil imunitas masyarakat baik yang berasal dari infeksi alamiah maupun vaksinasi, maka dampaknya tentu akan sangat fatal.

“Oleh karena itu, dengan memahami konteks yang sebenarnya seperti itu, saya mengingatkan kita harus hati-hati karena cakupan lansia kita yang divaksinasi dua dosis baru 50 persen apalagi booster. Jadi rawan dan ini baru awal, jadi menurut saya masih terlalu dini kalau dikatakan kita dalam konteks, jangan khawatir misalnya, tapi harus sangat waspada,” ungkap Dicky kepada VOA.
Selain itu, dengan masih banyaknya kelompok rentan yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi keparahan, kematian dan tingkat perawatan rumah sakit yang melebihi varian delta.

BACA JUGA: Gubernur Sumut Laporkan Penurunan Kasus Covid-19 Sumut ke Presiden Jokowi

“Oleh karena itu proteksi penting dari sekarang karena potensi ledakan hunian RS dan fatalitas besar dari kelompok itu nantinya. Ini karena mereka sangat rentan, selain imunitas, dia dikelilingi orang dewasa yang bisa jadi belum divaksinasi makanya ini harus ditingkatkan akselerasi vaksinasi ini di masayarakat terutama dua dosis,” jelasnya.

Lebih jauh, Dicky menjelaskan melandainya kurva omicron tidak akan terjadi dengan cepat. Hal ini, tentu berdasarkan seberapa besar imunitas yang dimiliki di suatu daerah atau negara yang terjangkit. Selain itu, meskipun nantinya puncak atau gelombang omicron telah terlewati, dampak yang ditimbulkannya masih akan cukup serius.

“Dan ingat bicara pandemi, kalau sudah melewati puncak lalu selesai? engga seperti itu. gelombang atau puncak berakhir itu buat omicron belum tentu menghentikan dampaknya, karena misalnya legging indikator seperti kematian terutama apalagi kalau long covid panjang ceritanya dan timbulnya varian baru. Jadi skenario seperti ini harus dipertimbangkan sehingga kita tidak over confident, tidak abai dan selalu siap dengan skenario terburuk,” pungkasnya. (voa)

Pos terkait