Harga Emas Rebound Usai Anjlok Tajam, Investor Waspada Risiko Tarif AS dan Defisit Fiskal

Harga Emas Terjun Bebas ke Level Terendah 2 Pekan, Gencatan Senjata Israel-Iran Jadi Pemicu
Harga emas dunia kembali anjlok dan menyentuh level terendah dalam dua minggu terakhir. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Harga emas dunia kembali menunjukkan performa positif pada awal pekan ini setelah sempat tertekan tajam hampir 1% dalam sesi perdagangan sebelumnya. Lonjakan kekhawatiran atas defisit fiskal Amerika Serikat (AS) serta rencana tarif baru dari pemerintahan Presiden Donald Trump menjadi faktor utama yang mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Pada perdagangan Senin pagi (7/7/2025) hingga pukul 06.34 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat melemah tipis 0,25% menjadi US\$3.327,696 per troy ons. Ini merupakan koreksi ringan setelah pada perdagangan Jumat (4/7/2025), harga logam mulia ini naik 0,30% ke level US\$3.326,34 per troy ons.

Kenaikan harga emas pada akhir pekan lalu menandai kebangkitan pasca penurunan hampir 1% sehari sebelumnya, dan turut membantu emas mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 1,8% setelah dua minggu berturut-turut mengalami penurunan.

BACA JUGA: Kisah Emas 6 Kg yang Hilang: Lie Rugi Miliaran Rupiah, Tasmah Sang Kuli Jadi Tersangka

Kekhawatiran Tarif Baru AS dan Defisit Fiskal Topang Harga Emas

Kenaikan harga emas tak lepas dari kondisi geopolitik dan fiskal yang sedang memanas. Presiden Donald Trump pada Jumat mengumumkan bahwa dirinya telah menandatangani surat kepada 12 negara mitra dagang, yang berisi rincian tarif ekspor baru ke AS. Surat tersebut dijadwalkan dikirimkan pada Senin (7/7/2025), sebagai bagian dari kebijakan ekonomi agresif bertajuk “terima atau tinggalkan”.

Trump menyatakan, AS akan melewati negosiasi panjang dengan lebih dari 170 negara dan memilih menerapkan tarif sepihak sebesar 20% hingga 30% atas barang-barang yang masuk ke AS. Hingga kini, hanya Inggris dan Vietnam yang telah menandatangani kesepakatan perdagangan baru dengan AS, sementara China baru menjalin kerangka kerja terbatas.

Tak hanya itu, pada pekan lalu, Kongres AS juga telah meloloskan RUU pemotongan pajak besar-besaran yang diinisiasi oleh Trump. Undang-undang yang memangkas pajak, meningkatkan anggaran keamanan perbatasan, dan mengurangi pengeluaran untuk jaring pengaman sosial ini diperkirakan akan menambah beban utang nasional sebesar US\$3,4 triliun, dari total saat ini US\$36,2 triliun, menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO).

Kondisi ini semakin meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketahanan fiskal AS, yang pada akhirnya memperkuat minat terhadap instrumen lindung nilai seperti emas.

Pasar Menanti Kejelasan dari Risalah The Fed dan Negosiasi Dagang

Meski demikian, harga emas diprediksi akan tetap volatile pekan ini. Investor tengah menanti dua momen penting yang akan memengaruhi arah harga emas: hasil negosiasi dagang antara AS dan negara-negara mitra serta risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis pekan ini.

FOMC Minutes menjadi sorotan karena diharapkan memberi petunjuk mengenai sikap The Federal Reserve terhadap arah kebijakan suku bunga. Jika The Fed masih menunjukkan sikap hawkish atau cenderung mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, harga emas bisa kembali tertekan. Sebaliknya, jika sinyal dovish muncul, emas berpeluang melanjutkan tren naik.

Sebelumnya, laporan tenaga kerja AS yang kuat telah meredam ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat, menyebabkan harga emas sempat tergelincir hampir 1% pada perdagangan Kamis.

Bank Sentral Dunia Tambah Cadangan Emas

Di sisi lain, data terbaru dari World Gold Council menunjukkan bahwa bank sentral global menambah 20 ton emas bersih ke cadangan mereka pada Mei 2025. Angka tersebut naik 66,7% dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun masih di bawah rata-rata 12 bulan sebesar 27 ton.

Kazakhstan tercatat sebagai pembeli terbesar dengan penambahan 7 ton emas. Bank Nasional Polandia dan Bank Sentral Turki masing-masing membeli 6 ton emas. Total pembelian bersih emas oleh bank sentral sepanjang lima bulan pertama 2025 mencapai 67 ton untuk Polandia dan 15 ton untuk Turki.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Menguat Tiga Hari Beruntun, Ditopang Data Ketenagakerjaan AS yang Melemah

Proyeksi Emas Pekan Ini: Antara Optimisme dan Kewaspadaan

Dengan ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan perdagangan AS yang semakin meningkat, permintaan emas sebagai instrumen safe haven berpeluang menguat. Namun, volatilitas masih akan tinggi seiring fokus pasar pada pertemuan The Fed dan arah kebijakan suku bunga.

Jika negosiasi dagang AS gagal menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan atau berujung pada ketegangan, harga emas berpotensi menembus level resistance baru. Namun jika sentimen pasar membaik dan The Fed tetap pada kebijakan ketat, maka tekanan terhadap logam mulia bisa kembali terjadi. (KSC)

Pos terkait