REPORTER: Dody Ariandi
KLIKSUMUT.COM | BINJAI – Harga cabai merah keriting di sejumlah pasar tradisional Kota Binjai mengalami lonjakan drastis hingga mendekati Rp100 ribu per kilogram, memicu keresahan luas di kalangan pelaku UMKM kuliner dan ibu rumah tangga.
Survei terbaru dari Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Perdagangan (Disnaker-Perindag) Kota Binjai mencatat lonjakan signifikan di tiga pasar utama: Pasar Tavip: Rp80.000/kg (naik 42% dari Rp56.000/kg), Pasar Kebun Lada: Rp85.000/kg (naik 37% dari Rp62.000/kg) dan Pasar Brahrang: Rp85.000/kg (naik 54,5% dari Rp55.000/kg)
“Kenaikan ini dipicu oleh cuaca ekstrem, terutama musim hujan yang mengganggu rantai distribusi dan pasokan dari daerah penghasil seperti Tanah Karo,” ujar Kepala Disnaker-Perindag Kota Binjai, Drs. Hamdani Hasibuan, Senin (8/9/2025).
Dampak lonjakan harga ini dirasakan langsung para pelaku usaha kuliner dan pedagang pasar. Risma, pedagang sayur di Pasar Tavip, mengaku penjualannya merosot tajam.
BACA JUGA: Presiden ke Pasar Petisah Medan, Gubernur Pastikan Harga Cabai Sudah Mulai Terkendali
“Cabai merah keriting sekarang mahal kali pak, Rp82 ribu per kilo. Kami bingung mau jual berapa. Pelanggan banyak yang mundur. Nyaris gak laku, padahal stok juga gak banyak,” keluhnya.
Keluhan serupa datang dari pelaku usaha makanan. Agustina, pemilik warung makan di kawasan Binjai Kota, bahkan terpaksa mengurangi porsi sambal.
“Sambal itu nyawa masakan kami. Tapi sekarang kami terpaksa pakai bumbu giling. Rasanya beda, konsumen protes, tapi kami juga gak bisa terus-terusan rugi,” ungkapnya.
Kondisi ini juga menyulitkan distributor seperti Herman, yang biasa menyuplai cabai ke pedagang lokal.
“Harga dari petani aja udah Rp80 ribu per kilo. Jalur pengangkutan dari Tanah Karo licin dan terhambat karena hujan deras. Kami berusaha tetap suplai agar pasar nggak kosong,” ujarnya.
Sebagai respons cepat, Disperindag Kota Binjai menyarankan masyarakat menggunakan bumbu giling sebagai alternatif praktis dan ekonomis dalam memasak, sembari menunggu harga kembali stabil.
BACA JUGA: Hendri Duin: Naiknya Harga Cabai Petani Untung, Ibu Rumah Tangga Bingung
“Kami paham keresahan masyarakat. Karena itu, kami sarankan bumbu giling sebagai solusi sementara. Disnaker-Perindag juga akan terus berkoordinasi dengan distributor dan pemangku kepentingan agar tidak terjadi penyesuaian harga yang tidak wajar,” tegas Hamdani.
Pemerintah Kota Binjai sebelumnya juga telah mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara daring, sebagai bagian dari strategi nasional dalam memantau dinamika harga pangan dan menjaga stabilitas ekonomi lokal. (KSC)






