Golden Wing: Legenda Rock Palembang yang Mendunia Lewat Film The Creator

Golden Wing: Legenda Rock Palembang yang Mendunia Lewat Film The Creator
Golden Wing (foto/ist)

KLIKSUMUT.COM – Golden Wing adalah grup band rock legendaris asal Palembang, Indonesia, yang berdiri pada tahun 1969. Terinspirasi oleh band-band rock dunia seperti Uriah Heep dan Black Sabbath, Golden Wing sukses menempatkan diri sejajar dengan nama-nama besar skena rock Indonesia seperti AKA, The Rollies, dan God Bless.

Kini, nama Golden Wing kembali mencuat setelah beberapa lagu mereka digunakan dalam film Hollywood The Creator karya sutradara Gareth Edwards. Lagu-lagu seperti “Kasih Suci”, “Hanny”, dan “Hari Yang Mulia” memperkenalkan kembali warna rock klasik Indonesia ke panggung internasional.

Sebelum dikenal sebagai Golden Wing, band ini awalnya berdiri dengan nama Black Stones pada tahun 1964 di Palembang. Formasi awalnya terdiri dari: Fit Kien (gitar utama), Karel Cassidy (gitar ritme), Ismet Soewondo (vokal utama), Bakar (bas) dan Musiardanis (drum)

Pada tahun 1967, beberapa personel direkrut oleh Batalyon Zipur (Zeni Tempur) Palembang dan membentuk grup musik Band Pionir. Salah satu personelnya bahkan adalah Guntur Soekarnoputra, putra Presiden pertama RI, Soekarno.

Namun pada akhir 1969, Band Pionir bubar karena sebagian besar personelnya melanjutkan pendidikan ke luar kota.

Era Golden Wing dimulai ketika sebuah pabrik kecap di Palembang, Tong Hong, membeli seperangkat alat musik dan merekrut Fit Kien serta Karel Cassidy. Nama band kemudian diubah menjadi Golden Wing, terinspirasi dari bahasa Inggris yang berarti “Sayap Emas”.

BACA JUGA: God Bless: Legenda Rock Indonesia yang Tetap Eksis Sejak 1973

Formasi awal Golden Wing: Fit Kien (berganti nama menjadi Piter Kenn) – gitar utama, Bakar (berganti nama menjadi Kun Lung) – bas, Tarno S. – drum, Freddy – piano dan organ dan Karel Cassidy (berganti nama menjadi Carel Simon) – gitar ritme dan vokal utama

Bacaan Lainnya

Memasuki awal 1970-an, Golden Wing beberapa kali mengalami pergantian personel. Nama-nama seperti Dadang S. Manaf, Sandy Prabu, Totok Tewel, Victro Ekki, dan Adhimantra sempat memperkuat band ini.

Pada tahun 1975, Areng Widodo, musisi asal Yogyakarta, bergabung dan membawa warna baru dalam aransemen musik mereka. Di tahun yang sama, Golden Wing tampil sepanggung bersama God Bless di Balai Sidang Senayan—sebuah pencapaian prestisius di era tersebut.

Salah satu lagu mereka yang paling dikenal luas adalah “Hilang”, yang menjadi anthem bagi penikmat rock klasik Indonesia.

Saat merilis album keempat, Golden Wing mulai menghadapi perbedaan visi musikal. Masuknya unsur pop melayu memicu ketegangan internal, terutama karena Areng Widodo dan Adhimantra tetap ingin mempertahankan idealisme rock mereka.

Situasi diperparah dengan munculnya band pesaing bernama No Wing, yang beranggotakan mantan personel Golden Wing. Konflik internal dan persaingan eksternal membuat pamor Golden Wing perlahan meredup.

BACA JUGA: Giant Step: Pelopor Rock Progresif Bandung yang Mendobrak Arus Utama Musik 70-an

Meski berasal dari daerah, Golden Wing membuktikan bahwa kualitas musik tidak dibatasi oleh geografis. Mereka menjadi simbol bahwa band rock dari luar Jakarta pun mampu bersaing secara nasional.

Penggunaan lagu-lagu Golden Wing dalam film The Creator menjadi bukti bahwa karya mereka tetap relevan lintas generasi dan lintas negara.

Golden Wing bukan sekadar band rock lawas—mereka adalah bagian penting dari sejarah musik rock Indonesia yang layak dikenang dan diapresiasi kembali. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait