“Saya sangat sedih melihat kondisi di desa ini, bahkan di rumah ibadah (mesjid) tempat masyarakat beribadah dan juga sebagai arena belajar mengaji (baca Al-Qur’an) untuk anak anak juga menggunakan lilin dan penerangan seadanya,” sebutnya.
Paulus Peringatan Gulo juga berharap dan meminta kepada pemerintah dan PT. PLN Persero untuk turun melihat dan menyelesaikan dengan segara terkait persoalan ini. Hal ini menyangkut amanat penderitaan rakyat dan masa depan generasi penerus bangsa kedepan.
Senada, nyak Triani selaku tokoh masyarakat Kelompok Tani Desa Panigoran juga menyampaikan harapan besar kepada pemerintah agar konflik agraria ini selesai dan kami yang tinggal disini merasa aman dan nyaman .
Baca juga: Poldasu Tetapkan Bupati Labura dan Labusel Tersangka
“Harapan besar saya sampaikan kepada pemerintah, presiden Jokowi tolong perhatikan rakyatmu yang tanahnya hari ini dirampas oleh PT. Smart dan desa kami yang belum dialiri arus listrik,” imbuh Bu Triani yang kerap dipanggil Nyak Triani ini.
Sementara Adi Kesuma selaku Ketua KTPHS menyampaikan ribuan terimakasih kepada DPD GMNI SUMUT yang telah hadir dan juga peduli terhadap persoalan rakyat. “Saya selaku Ketua KTPHS mengucapkan ribuan terimakasih kepada DPD GMNI SUMUT yang telah hadir dan turut serta mendampingi dalam memperjuangkan hak kami sebagai rakyat, sebab hak rakyat untuk rakyat,” tutupnya mengakhiri. (rel/red)








