KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Dunia musik Tanah Air kembali diguncang! Penyanyi senior Ari Lasso melontarkan kritik tajam terhadap Wahana Musik Indonesia (WAMI) usai menemukan kejanggalan besar dalam distribusi royalti yang seharusnya ia terima.
Melalui akun Instagram pribadinya, Ari mengunggah keluhan yang mengejutkan banyak pihak. Ia mengaku menerima email dari WAMI yang menunjukkan transfer royalti sebesar Rp765.594, namun atas nama Mutholah Rizal, bukan dirinya.
“WAMI is a joke… fn joke. Saya bingung, dari sekian puluh juta yang menetes hanya 700-an ribu,” tulis Ari dalam unggahannya, Senin (11/8/2025).
Bukan hanya nominal yang dipertanyakan, tapi juga proses dan sistem kerja di balik layar. Ari mengaku langsung menghubungi sahabatnya, Meidy Aquarius, yang pernah bekerja di WAMI. Namun, bukannya mendapat jawaban, justru kebingungan yang ia temukan.
“Saya telepon sahabat saya, Mas Meidy Aquarius (@meidif)… dia pun juga bingung dan bilang ‘gue udah enggak di WAMI’,” ungkap Ari.
BACA JUGA: Innalillahi, Opi Bachtiar Meninggal Dunia di Usia 43 Tahun, Publik Tanah Air Berduka
Puncaknya, Ari mempertanyakan apakah perhitungan royalti yang diterimanya itu sebenarnya milik dia atau justru milik Mutholah Rizal. “Kalau itu hak saya, kenapa nama orang lain? Kalau itu milik orang lain, kenapa laporan tertulis atas nama saya?”
Tak main-main, Ari Lasso bahkan meminta agar lembaga tinggi negara seperti BPK, KPK, hingga Bareskrim turun tangan memeriksa praktik dalam tubuh WAMI.
“Sebuah lembaga dengan manajemen yang sangat buruk, yang berpotensi merugikan negara dalam hal ini Dirjen Pajak dan yang pasti merugikan banyak musisi anggota Anda.”
Dalam unggahan tersebut, ia juga menyindir kepemimpinan baru WAMI yang kini berada di tangan musisi legendaris Adi Adrian (KLa Project). Ari meminta klarifikasi langsung atas carut-marut yang terjadi.
“Katanya ketuanya sekarang musisi yang sangat saya kagumi, Mas Adi Kla. Mohon pencerahan.”
Tak butuh waktu lama, pernyataan Ari langsung memantik gelombang reaksi dari sesama musisi dan pencipta lagu. Banyak dari mereka yang selama ini juga mengeluhkan ketidakjelasan royalti menyatakan dukungan dan membagikan pengalaman serupa.
BACA JUGA: Kenny Austin Diduga jadi Kekasih Baru Amanda Manopo
Merespons hal ini, Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) mengusulkan Digital Direct License (DDL) sebuah sistem distribusi royalti berbasis digital yang diklaim lebih transparan dan minim kesalahan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak WAMI belum memberikan keterangan resmi. Namun tekanan publik dan suara dari para pelaku industri musik terus menggema, menuntut adanya reformasi sistem royalti dan manajemen lembaga kolektif yang lebih bersih, transparan, dan profesional.
Kasus Ari Lasso ini bukan sekadar masalah salah transfer melainkan tanda serius bahwa sistem royalti musik Indonesia membutuhkan revolusi. (KSC)








