Henry Ford (1863-1947)
Henry Ford paling dikenal berkat keberhasilannya mengembangkan mobil produksi massal pertama, yang membuat apa yang sebelumnya merupakan produk mewah, menjadi barang yang dapat terjangkau oleh para konsumen. Ia juga Ford memopulerkan jalur perakitan mobil dan jam kerja 40 jam per minggu serta menetapkan standar upah yang lebih tinggi. Dia mengemukakan alasan bahwa pekerja yang dibayar lebih baik dan lebih bahagia akan lebih produktif dan mampu membeli mobil yang mereka buat.
Ford percaya bahwa industri dan konsumerisme tidak hanya akan menguntungkan ekonomi tetapi juga akan mendorong perdamaian dunia. Ia juga secara aktif berkampanye menentang perang sebagai pemborosan produktivitas. Setelah gagal mencegah masuknya Amerika Serikat ke dalam Perang Dunia I, Ford dengan patuh mendukung upaya perang dan meredam aktivismenya, tetapi ia tetap mencalonkan diri sebagai anggota Senat Amerika Serikat pada tahun 1918 — msekipun akhirnya kalah tipis.
Namun tidak semua aspek reputasi Ford bagus. Pendekatan paternalistis dan murah hati sang taipan terhadap karyawannya berjalan seiring dengan penentangannya yang keras terhadap upaya serikat pekerja dan pemogokan pekerja, yang ditekan dengan kekerasan.
BACA JUGA: Elon Musk: Minyak dan Gas Tidak Perlu Dihujat
Sikap pasifismenya juga memiliki sisi yang lebih gelap. Ford dikenal sebagai orang yang antisemit dan percaya bahwa orang Yahudi bertanggung jawab atas Perang Dunia I serta berbagai masalah dalam masyarakat Amerika. Setelah membeli surat kabar Dearborn Independent pada tahun 1918, Ford menggunakannya untuk menerbitkan berbagai teori konspirasi antisemit, dan baru berhenti setelah ada ancaman boikot terhadap perusahaannya.
Sebagai bagian dari America First Committee, Ford berkampanye menentang keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II dan terus berbisnis dengan Nazi Jerman hingga Amerika Serikat menyatakan perang pada tahun 1941.
William Randolph Hearst (1863-1951)
Sebagai pemilik San Francisco Examiner dan New York Morning Journal, Hearst membangun kerajaan media dan memelopori bentuk pelaporan sensasional yang kemudian dikenal sebagai “jurnalisme kuning”. Laporan Journal yang dibesar-besarkan tentang kekerasan kolonial Spanyol di Kuba, mengobarkan opini publik Amerika dan meningkatkan seruan untuk campur tangan. Ketika Kongres akhirnya menyatakan perang terhadap Spanyol pada tahun 1898, Hearst secara pribadi pergi ke Kuba untuk meliput konflik tersebut.
Operasi media Hearst kemudian berkembang menjadi lebih dari dua lusin surat kabar di beberapa kota, serta majalah dan penerbit buku.
Setelah fokus pada politik, Hearst sempat mewakili distrik ke-11 New York di DPR Amerika Serikat, tetapi kalah tipis ketika mencalonkan diri sebagai wali kota dan gubernur. Koran-koran Hearst telah menerbitkan tajuk rencana yang mencela Presiden William McKinley dengan keras, dan ia dinyatakan bersalah atas hasutan pembunuhan McKinley pada tahun 1901.
BACA JUGA: Elon Musk: Pertandingan dengan Zuckerberg akan Disiarkan di X
Dari seorang populis progresif, Hearst beralih ke isolasionisme sayap kanan setelah Perang Dunia I dan Revolusi Rusia 1917. Sambil mencela kebijakan New Deal Presiden Franklin Delano Roosevelt sebagai anti-Amerika, Hearst menyatakan kekagumannya pada Hitler dan menerbitkan artikel-artikel oleh pemimpin Jerman tersebut. Meskipun demikian, Hearst mendukung masuknya Amerika Serikat ke dalam Perang Dunia II setelah serangan di Pearl Harbor, dan beralih mengkampanyekan sentimen anti-Asia dan penahanan warga Amerika keturunan Jepang.
Kini, Hearst dikenang sebagai inspirasi nyata untuk film “Citizen Kane,” yang dibuat semasa hidupnya dan yang ia upayakan untuk diblokir agar tidak dirilis.








