Pengamat Selamat Ginting desak penuntasan kasus dugaan ijazah palsu Jokowi. Ia bahkan dorong pemakzulan Gibran jika ditemukan pelanggaran konstitusi. Faizal Assegaf ikut soroti reputasi UGM.
KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Isu dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi sorotan tajam publik. Kali ini, Pengamat Politik dan Militer Selamat Ginting angkat bicara dan memberikan pernyataan tegas yang mengejutkan.
Dalam tayangan podcast bersama mantan Ketua KPK Abraham Samad, Ginting menekankan pentingnya keterlibatan publik untuk mengawal proses penyelidikan kasus ini secara serius dan transparan.
BACA JUGA: Reuni Akbar Angkatan 1980 Fakultas Kehutanan UGM: Saksi Hidup Pastikan Jokowi Alumnus Asli, Buka-bukaan Soal Isu Ijazah Palsu
“Ikut mendorong penyelesaian kasus-kasus dugaan ijazah palsu dan juga pemakzulan terhadap Gibran,” tegas Ginting, dikutip Jumat (1/8/2025).
Menurutnya, dugaan ijazah palsu bukan sekadar persoalan administratif, namun merupakan bentuk kejahatan konstitusi yang harus diproses secara hukum.
“Patut diduga Jokowi melakukan kejahatan di dalam kasus dugaan ijazah palsu,” tambahnya.
Ginting juga merespons tajam munculnya reuni mendadak yang diklaim sebagai bukti keaslian ijazah Jokowi. Ia curiga bahwa kegiatan tersebut justru merupakan upaya pengalihan isu.
“Dengan adanya reuni tiba-tiba dan dadakan itu, bukan berarti menghapus dugaan ijazah palsu ini,” sambungnya.
Lebih jauh, Ginting menilai kasus ini sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan rakyat Indonesia.
“Dugaan ijazah palsu Jokowi ini tentu saja kejahatan terhadap konstitusi. Juga ini pelecehan terhadap kedaulatan rakyat. Jika itu terbukti, melawan Jokowi adalah perjuangan moral,” tandasnya.
Faizal Assegaf: “UGM Kehilangan Marwah Intelektual”
Tak hanya Ginting, aktivis dan pengamat sosial-politik Faizal Assegaf juga menyampaikan kritik pedas terhadap Universitas Gadjah Mada (UGM) yang disebutnya kehilangan marwah sebagai institusi intelektual.
“Karena dokumen jahanam inilah maka rakyat boleh dong mempertanyakan reputasi dari universitas ini,” ungkap Faizal melalui akun X @faizalassegaf, Rabu (31/7/2025).
Faizal menuding adanya keterlibatan emosional dan struktural UGM dalam lingkaran kekuasaan Jokowi, menyebut sejumlah tokoh penting yang berasal dari almamater tersebut seperti Mahfud MD dan Pratikno.
“Di era kekuasaan Jokowi itu terlalu banyak perwakilan dari UGM. Jangan-jangan ada panggung belakang sandiwara,” sindirnya.
Bahkan, Faizal dengan nada tajam menyamakan UGM seperti “kebun binatang” karena dianggap telah kehilangan daya kritisnya.
“Kebun binatang itu kan kumpulan hewan yang tidak bernalar. Kalau lobi-lobi kekuasaan, alumni-alumni UGM jago,” cetusnya.
BACA JUGA: Roy Suryo Sindir Cerita KKN Jokowi di Reuni UGM: “Hanya Narasi, Tak Ada Nilai Tanpa Bukti”
Ia juga mengungkapkan adanya tekanan psikologis terhadap sivitas akademika kampus tersebut, yang membuat mereka bungkam atas isu sensitif ini.
“Dalam kasus ijazah palsu itu ada semacam perbudakan psikologi. Hampir seluruh warga UGM yang masih aktif dalam struktur diam,” ungkapnya.
Sebagai bentuk kekecewaan ekstrem, Faizal bahkan menyarankan pembubaran UGM jika tidak mampu menjelaskan keaslian ijazah yang kini dipertanyakan.
“Kalau masalah satu lembar ijazah yang berakibat fatal dan harus diselesaikan alat negara, menurut saya UGM dibubarkan saja!” pungkasnya. (KSC)








