Dan pahala ibadahnya orang2 yg beramal soleh yg sudah sembuh tadi ikut dinikmati para dokter2 tadi, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang2 yg beribadah tadi karena sudah pulih kesehatannya. Apa nggak bikin iri hati saya yg bukan dokter ini?
Sebab, kita semua ini sesungguhnya sedang berada di ujung2 kematian kita. Ibaratnya kita ini sedang berada di ruang tunggu tanpa nomor antrean. Ada atau tak ada sebab kita satu per satu, atau secara bersamaan akan meninggalkan ruang itu. Caranya terserah Yang Maha Kuasa.
Kita sedang berada dalam antrean yang sama. Kita tidak tahu kita berada di antrean yang depan atau di belakang. Tidak ada satupun dari kita yang dapat keluar dari antrean ini.
Yang antrean di depan bukan berarti hina. Yang antrean di belakang bukan berarti mulia. Kalau antrean itu adalah kematian, maka kita tinggal menunggu panggilan antrean itu tanpa menggunakan nomor antrean. Lalu, apalagi yang kita harapkan menuju ke alam kematian dan alam akhirat kalau bukan amal soleh?
Kawan2 saya yang dokter itu, punya peluang membuka deposito pahala lebih besar untuk bekal ke ‘alam sana’ ketimbang saya.
BACA JUGA: Gelar Doktor Dari USU, Kombes Sandi Nugroho Raih Predikat Cumlaude
Saya yakin untuk mewujudkan cita-cita mulia para dokter itu tidak mudah. Pasti akan ada saja masalah dan cobaan yang dihadapi untuk mewujudkan cita-cita berkhidmat kepada urusan2 langit. Masalah itu bisa saja datang dari internal dan eksternal. Misalnya, soal transparansi dan profesionalisme, tanggung jawab, manajemen administrasi dan keuangan, kemampuan memenej ego dan kepentingan masing2, soal koordinasi, dan ujian lainnya yg secara terbuka dan tiba-tiba dapat muncul sewaktu-waktu tanda diduga.
Satu lagi pesan tuan guru kami yang sering saya ingat,”Berbagai masalah yang kerap singgah pada hidupmu adalah pesan dari Allah bahwa Dia masih mencintaimu. Inilah pesan yang sering kali kita artikan keliru. Sebab semakin kau dicintai-Nya maka sering kau diberikan ujian silih berganti. Bukan untuk menyakitimu atau apalagi untuk mempersulit hidupmu. Akan tetapi untuk membuktikan seberapa layak dirimu berhak mendapatkan cinta kasih suci dari-Nya.”
Soal kemampuan kita, bukankah Allah tak pernah membebani di luar kesanggupannya hamba-Nya? Sekarang kitalah yang perlu mengamati diri kita sendiri, sejauh mana usaha kita dalam mengatasi setiap masalah yang tengah kita hadapi. Dan segala urusan yang pelik ini selalu ada solusi termudah yang diberikan Allah untukmu.
“Karena ada jaminan bahwa ketika Allah menimpakan suatu kesulitan pastilah mengiringsertakan berjuta kemudahan. ‘Inna ma’al ‘usri yusro, fa inna ma’al usri yusro’,” tambah Tuan Guru.
Selamat menambah deposito pahala buat kawan-kawanku para dokter spesialis dakwah! Semoga Allah mudahkan. (Puji Santoso)








