Kecuali Bang Dr.Delyuzar yang lebih senior, para dokter ini rata-rata adalah teman-teman seangkatan saya sejak sama-sama aktif kuliah di USU dan aktif di lembaga dakwah Kampus Universitas Sumatera Utara (USU) para era tahun 1987-1990an. Jadi sebenarnya dunia dakwah tidak asing lagi bagi mereka. Mereka rata2 adalah dokter yang pernah merasakan training kader dakwah (Studi Islam Intensif) di Masjid Dakwah Kampus USU pada saat kuliah dulu.
Bagi saya, mereka adalah veteran dakwah saat aktif di Kampus USU. Baik di masjid Dakwah USU maupun di Masjid2 di Fakultas Kedokteran USU. Kecintaan mereka semasa aktif di lembaga dakwah mahasiswa USU yang mereka tinggal 30 tahun silam, mereka jalin kembali dalam wadah Dewan Dakwah Sumatera Utara.
BACA JUGA: Mahasiswa S3 Unimed Ikuti Sidang Promosi Doktor Secara Daring Perdana
Kemarin Kamis (4/5/2022) para dokter spesialis ini ikut dalam deretan pengurus Dewan Dakwah Sumatera Utara. Mereka dikukuhkan Wakil Ketua Umum Dewan Dakwah Dr. Muhammad Noer,MA di rumah dinas Gubernur Sumatera Utara di Medan.
“Saya bersyukur teman-teman dokter ini bersedia ikhlas bergabung di Dewan Dakwah. Mereka bukan orang baru di dunia dakwah. Setelah ini kami akan memfokuskan diri mendirikan rumah sakit Islam yang bergengsi di Medan,” kata Chairul Azhar,M.Si, Ketua Dewan Dakwah Sumatera Utara, seusai dikukuhkan.
Saya teringat tuan guru kami pernah berujar bahwa berdakwah atau menyeru kepada kebajikan, beramar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban setiap muslim. Menjadi da’i bukan hanya milik profesi ustadz/ustadzah saja. Tetapi kita semua hidup di dunia ini punya misi sebagai da’i jika tidak ingin hidup merugi di akhirat.
“Da’wah tidak hanya kita serukan di masjid-masjid saja. Akan tetapi juga perlu kita serukan di kantor-kantor, masyarakat dan di mana saja kita berada. Sebagai apapun kita, menjadi apapun kita, apapun profesi kita, ada profesi yang seharusnya selalu melekat pada diri kita, yaitu sebagai profesi da’i,” kata Tuan Guru kami, dalam satu kajiannya.
Menjadi dokter juga mempunyai peluang besar untuk berkontribusi dalam dakwah. Karena biasanya pasien akan patuh terhadap nasihat dan saran dari dokter. Dokter adalah profesi yang mudah dipercayai pasiennya. Dokter selalu mampu menyelipkan pesan-pesan Ilahi misalnya agar pasien memperbanyak ibadah seperti berdoa, berdzikir, shalat malam, bersedekah, dan lain-lain. Sebab hanya Allah SWT sajalah yang dapat menyembuhkan penyakit. Sedangkan dokter hanya membantu upaya memperoleh kesembuhan.
“Dokter yang menjadi da’i itu dapat saja menyelipkan pesan dakwah kepada pasiennya, misalnya kalau mau sembuh secara non medis maka bersedekahlah, tahajjudlah. Apalagi ditambah referensi atau kisah2 tentang banyaknya kasus-kasus kesembuhan dari penyakit akibat sedekah dan tahajud. Lebih mantap lagi itu,” tambah Tuan Guru.
Terus terang, perbuatan mulia para rekan-rekan saya dokter ini membuat saya terharu sekaligus iri hati. Loh kenapa? Sebab ilmu dan keahlian mereka ini mampu menjadi peluang amal jariyah yang akan menjadi andalan bekal bagi mereka kelak dipanggil Allah (kematian).
Bayangkan saja, orang2 yg biasa rajin beramal soleh terpaksa harus uzur karena tak mampu beribadah lagi karena sakit. Dan tangan2 dokter ini, atas izin Allah, mampu membantu orang2 sakit itu, lalu sembuh, dan akhirnya orang2 soleh tadi dapat beribadah lagi.








