KLIKSUMUT.COM – Taman Wisata Alam (TWA) Danau Sicike-cike di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan. Kawasan konservasi seluas 575 hektare ini tidak hanya dikenal dengan pesona tiga danaunya yang eksotis, tetapi juga kekayaan hayati, fungsi hidrologis penting, hingga legenda asal-usul tujuh marga Pakpak yang masih dipercaya hingga kini.
Terletak di Desa Lae Hole, Kecamatan Parbuluan, kawasan ini resmi ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam sejak 7 Februari 1989 dan menjadi salah satu destinasi wisata alam paling menarik di Sumatera Utara.
TWA Sicike-cike berada pada ketinggian 1.350–1.500 mdpl dengan suhu sejuk khas pegunungan. Dari Kota Sidikalang, pengunjung dapat menempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan kendaraan roda empat, kemudian melanjutkan trekking ringan sejauh ±2,5 km menuju area danau.
Rimbunnya hutan tropis yang masih terjaga membuat perjalanan masuk ke kawasan ini terasa seperti memasuki dunia yang benar-benar berbeda.
Hutan Sicike-cike dipenuhi berbagai jenis vegetasi langka seperti sampinur tali, sampinur bunga, rotan, meang, hingga pohon kemenyan yang menjadi komoditas unggulan daerah. Berbagai jenis anggrek dan tanaman kantong semar (Nepenthes) juga banyak ditemukan di kawasan ini.
Untuk fauna, TWA Sicike-cike merupakan habitat siamang, burung enggang, itik liar, reptil, serangga endemik, hingga mamalia besar seperti beruang madu.
Menariknya, pada tahun 2024 ditemukan dugaan sarang orangutan Sumatera di beberapa titik kawasan ini, memicu penelitian lanjutan oleh pihak konservasi.
Tak hanya danau, hutan Sicike-cike ternyata menyimpan empat air terjun yang tersembunyi jauh di dalam kawasan. Air terjun keempat baru ditemukan pada Mei 2024 oleh tim patroli. Meski aksesnya cukup sulit, pemandangan yang ditawarkan sangat eksotis dan masih sangat alami—sebuah surganya para pencinta petualangan.
BACA JUGA: Air Terjun Efrata Samosir, Destinasi Wisata Alam yang Mempesona
Salah satu keunikan terbesar kawasan ini adalah kondisi hidrologinya. TWA Sicike-cike memiliki tiga danau utama berwarna cokelat kemerahan yang tidak memiliki aliran sungai masuk maupun keluar. Meski begitu, permukaan airnya tetap stabil sepanjang tahun.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa danau-danau tersebut kemungkinan besar berasal dari air tanah (groundwater) atau sistem resapan alami dari hutan yang masih terjaga.
Secara ekologis, Sicike-cike merupakan bagian hulu dari DAS Kombih, sub-DAS dari DAS Singkil yang luasnya mencapai 12.334 km². Kawasan ini berperan penting sebagai daerah tangkapan air bagi wilayah Pakpak Bharat hingga Aceh Singkil.
Selain keindahan alam, Danau Sicike-cike juga sarat dengan legenda. Salah satu kisah paling terkenal berkisah tentang Raja Naga Jambe, yang memiliki dua istri: Berru Saraan dan Berru Padang.
Dari rumah tangga tersebut lahir tujuh anak, yang kemudian dipercaya masyarakat Pakpak sebagai cikal-bakal Sipitu Marga.
Legenda menyebutkan bahwa air mata Berru Saraan—yang ditinggal keluarganya pergi ke ladang dalam keadaan sakit dan lapar—menggenangi lembah dan membentuk Danau Sicike-cike.
Sampai hari ini, masyarakat meyakini bahwa memandikan kucing di danau ini dapat mendatangkan bencana, sebuah kepercayaan kuno yang masih dihormati.
Penduduk sekitar kawasan ini didominasi masyarakat suku Pakpak, namun hidup harmonis bersama pendatang seperti suku Batak Toba. Mereka disatukan oleh nilai adat “Sulang Si Lima” yang menjadi pedoman hidup bersama.
BACA JUGA: Healing Antimainstream di Kabupaten Karo: Menikmati Pesona Eksotis Air Terjun Sipiso-piso
Dengan kekayaan alam dan proses ekologis yang masih terjaga, TWA Sicike-cike memiliki potensi besar sebagai pusat pendidikan lingkungan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga peneliti ekologi.
Dengan pesona tiga danau unik, empat air terjun tersembunyi, hutan tropis yang kaya flora-fauna, hingga legenda kuno yang menambah daya tarik budaya, Danau Sicike-cike layak disebut sebagai salah satu permata alam Sumatera Utara.
Kawasan ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga membawa pesan penting tentang konservasi dan keseimbangan ekosistem yang harus terus dijaga. (KSC)
TIM REDAKSI








