KLIKSUMUT.COM – Batik Tribe, grup musik hip hop asal Jakarta yang berdiri sejak Desember 2007, kembali menjadi sorotan berkat kiprahnya mengangkat isu sosial dan budaya Indonesia melalui karya. Grup ini digawangi oleh empat personel yakni Della MC (Havis), Cool B (Budi), Wizzow, dan DJ S-tea (Sonu). Identitas musikal mereka tidak hanya terletak pada lirik kritis, tetapi juga penggunaan unsur musik tradisional serta penampilan panggung yang khas dengan busana batik.
Batik Tribe merilis album debut bertajuk “Melangkah” pada tahun 2008. Menariknya, mereka memilih jalur distribusi eksklusif dengan memproduksi hanya 2.000 CD dan 1.000 kaset, bekerja sama dengan Virgo Ramayana Record. Proses produksi memakan waktu tiga bulan dan melibatkan banyak musisi lintas genre dan negara, seperti Ras Muhamad, Igor Saykoji, Sister Duke, Miss JayDee (Soul ID), hingga Kryptik dari Belanda dan Duvz dari Australia.
Album ini menegaskan identitas Batik Tribe sebagai grup hip hop yang mengedepankan rima kuat, flow variatif, dan pesan sosial yang mendalam, berbeda dari hip hop arus utama yang cenderung bertema glamor atau komedi.
BACA JUGA: Kisah Barong’s Band: Grup Rock Indonesia yang Bersinar dari Köln hingga Meraih Piala Citra
Single pertama mereka, “Sabarlah”, merupakan bentuk kepedulian terhadap anak-anak jalanan. Lirik seperti “Mimpi kebahagiaan tidak lebih dari fatamorgana” menjadi pengingat kerasnya kehidupan di jalanan.
Single kedua, “Indo Yo… Ey …”, menjadi perayaan kekayaan musik Indonesia. Lagu ini memadukan beat elektronik hip hop dengan instrumen tradisional seperti gamelan, kolintang, suling bambu, hingga bonang. Pendekatan ini memperkuat misi Batik Tribe untuk menjadikan hip hop sebagai media ekspresi sosial dan budaya yang autentik.
Penampilan Batik Tribe di panggung selalu dibalut busana batik, simbol kecintaan mereka terhadap budaya Indonesia. Ciri khas ini bahkan mereka kembangkan menjadi lini fashion sendiri bernama Batik Gear yang dirilis pada tahun 2009.
Batik Tribe sempat merencanakan perilisan album kedua pada tahun 2010. Meski hingga kini peluncurannya ditunda tanpa kepastian waktu, grup ini telah menyiapkan karya-karya baru yang kental dengan unsur musik Nusantara. Sekitar 80% materi album disebut akan menggabungkan instrumen angklung, suling, dan beragam gamelan Jawa–Sunda, bahkan ada satu lagu yang memadukan musik hip hop dengan tarian Bali kecak.
BACA JUGA: Bagindas: Rilis Single Baru “Tak Ada Yang Dapat Menggantikanmu”, Usai Lama Diisukan Bubar
Perjalanan Batik Tribe menunjukkan bahwa hip hop Indonesia bisa berkembang tanpa harus meninggalkan akar budaya. Dengan keberanian mengangkat isu sosial dan memadukan instrumen tradisional, mereka sukses membangun identitas unik yang sulit ditandingi.
Bagi para penikmat musik dan pecinta budaya, karya Batik Tribe menjadi bukti bahwa hip hop bukan sekadar hiburan melainkan medium kuat untuk menyuarakan realitas dan merayakan keragaman Indonesia. (KSC)
TIM REDAKSI





