Nidom membandingkan dengan penggunaan vaksin Covid-19 konvensional yang juga pernah ditelitinya. Menurut Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin di PNF itu, sebagian peserta vaksinasi belum memiliki antibodi saat 16 hari setelah suntikan vaksin. “Kalau begitu, apalagi untuk proteksi terhadap virus, rawan untuk terinfeksi kembali,” tutur dia.
Baca juga: Vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 Dihentikan Sementara
Nidom berpendapat, berdasarkan ujinya itu, tidak perlu ada keraguan lagi dalam terapi Vaksin Nusantara. Menurut dia lagi, terapi yang risetnya dipimpin eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto itu bisa diikutkan sebagai bagian dari program pengendalian pandemi Covid-19 di Indonesia.
PNF, juga ditegaskan Nidom, hanya melakukan monitoring pascaterapi, bukan dalam riset uji klinis terapi yang pernah mengundang pro dan kontra terkait dengan prosedur yang ditempuh Terawan dkk itu. “Terutama kami menguji daya protektif antibodi yang terbentuk apakah bisa melawan Covid-19 yang ada di alam termasuk varian-varian baru,” kata Nidom. (red/tempo.co)








