Terdaftar Sebagai Penerima Bansos, Mula Tua Tak Pernah Terima Bantuan

Terdaftar Sebagai Penerima Bansos, Mula Tua Tak Pernah Terima Bantuan
KARTU BANSOS: Mula Tua Rambe duduk di ruang tamu rumah warisan orangtuanya. sembari menunjukkan Kartu Bansos tanpa pernah menerima bantuan. (FOTO: Dalil Harahap)

KLIKSUMUT.COM | TAPANULI SELATAN ~ Mula Tua Rambe (70) duduk di kursi plastik ruang tamu sambil meneguk segelas air putih Sabtu (27/12/2025) pagi. Ia tinggal di rumah semi permanen warisan orangtuanya. Rumah yang kian kusam dan lapuk ditelan usia.

Mual Tua kini menajalani sisa usai di tanah kelahiran di Dusun Tanjungbaru, Desa Huta Baru, Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel),Sumatera Utara (Sumut).

Untuk mengubah nasib, ia pernah berjudi dengan keberuntungan dengan bekerja di Malaysia beberapa tahun lalu. Namun kenyataan tidak seperti harapan, ia pulang dengan tangan kosong.

“Dulu pernah ke Malaysia. Kerja di sana. Tapi hanya cukup untuk makan. Bisa kirim uang ke kampung pun tidak bisa banyak. Gaji rendah,” kenang Mula Tua.

Setelah kembali ke Tanah Air, Mula Tua kemudian menikah, membangun mahligai rumah tangga. Untuk menghidupi keluarga, ia menggantungkan harapan pada hasil kebun peninggalan orangtuanya. Namun, tidak jarang ia bekerja serabutan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Namun, dalam 3 tahun terakhir, Mula Tua, hanya bisa duduk di kursi akibat asam lambung akut yang ia derita. Tubuh kian kurus, usia semakin lanjut, hingga tidak mampu mencari nafkah ke luar rumah.

“Sudah berobat kemana-mana, tetapi belum sembuh juga,” ujar sedih.

Biaya Pengobatan Menguras Harta, Istri Jadi Penopang

Bacaan Lainnya

Setelah berobat dalam rentang waktu yang lama, tidak ada tanda akan sembuh. Aakhirnya, Mula Tua menyerah. Ia menghentikan pengobatan karena tidak ada lagi harta benda yang layak jual. Semua telah habis, bahkan sebidang tanah warisan peninggalan orangtuanya.

Ia pasrah pada nasib dan terpaksa menggeser tanggung jawab sebagai kepala keluarga kepada isteri tercinta. Kini, ia hanya mampu menjemur diri kala pagi di atas kursi, lalu masuk ke rumah membaringkan diri.

Sang istri, bergulat dengan kejam dunia, menjadi tulang punggung keluarga menghidupi tiga anak masih duduk di bangku sekolah.

Hidup di bawah garis kemiskinan, membuatnya kerap berharap kepedulian pemerintah, meski itu sekadar mendapat bantuan biaya pengobatan atau program sosial seperti PKH dan bansos lainnya.

“Saya harap ada bantuan pemerintah. Bisa bantu biaya berobat atau bantuan lain. Belum pernah mendapat bantuan sampai saat ini,” sebutnya lirih.

Terdaftar Bansos, Namun Bantuan Tidak Pernah Sampai

Mula Tua mengaku terdaftar sebagai penerima Bansos bersama beberapa temannya. Bahkan ia memiliki kartu penerima Bansos. Namun, ia tidak pernah menerima bantuan sepeser pun!

“Hanya kartunya saja yang ada. Dari tahun 2021 sampai 2025 tidak pernah dapat bantuan. Sudah empat tahun terdaftar, tapi saldonya kosong,” ujarnya sedih.

Kenyataan pahit itu kadang menimbukan tanda tanya. Terdaftar dan telah menerima kartu Bansos, namun tak pernah menerima bantuan. Apakah bantuan sangkut di tengah jalan, atau menyusut saat pengiriman?

Mula Tua tak ingin berspekulasi. Bahkan ia selalu bupaya menepis pikiran atas dugaan adanya permainan oknum tertentu dalan pendistribuan Bansos.

Tiap ia menanyakan kemana Bansos menguap, perangkat desa selalu punya jurus berkelit.

“Orang itu bilang, nanti kita cek ya, Pak. Begitu terus mereka bilang,” kenang Mula Tua.

Bansos Tak Kungjung Cair, Memilih Pasrah

Hingga akhirnya, ia enggan bertanya lagi. Jenuh dengan ketidakpastian! Bosan dengan sikap perangkat desa yang tak berempati dengan keluhan warga.

“Sudah lah. Nanti Allah yang ganti. Tidak di dunia, Allah akan ganti di akhirat nanti,” ujarnya pasrah.

Meski begitu, ia berharap ada pejabat berhati malaikat yang berkenan bersikap adil; membantu masyarakat miskin mendapatkan hak-haknya.

“Memang kampung ini sulit di kontrol. Jauh dari kota dan jalannya rusak. Sinyal HP juga tidak ada. Listrik belum 24 jam,” tuturnya.

Mula Tua tidak peduli lagi dengan ketidakadilan dunia. Hal yang membuatnya cemas, hanya lah masa depan tiga anaknya yang tumbuh di masa “tikus pesta di lumbung padi”. (KSC)

REPORTER: Dalil Harahap

Pos terkait