KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Pemerintah bergerak cepat merespons lonjakan harga jagung pakan yang melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp5.800 per kilogram. Melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penyaluran jagung pakan bersubsidi dipastikan mulai berjalan pekan ini guna menjaga stabilitas harga dan keberlangsungan usaha peternak.
Direktur SPHP dari Badan Pangan Nasional, Maino Dwi Hartono, menyampaikan bahwa penugasan kepada Perum Bulog telah resmi diterbitkan.
“Kami memastikan penyaluran SPHP jagung segera dimulai minggu ini, seiring kenaikan harga di tingkat peternak dan berakhirnya sebagian masa panen raya,” ujarnya dalam rapat di Jakarta dikutip dari laman Bapanas, Sabtu, (2/5/2026)
Program SPHP jagung pakan tahun 2026 menargetkan distribusi sebesar 242 ribu ton hingga akhir tahun. Program ini menyasar lebih dari 5.000 peternak skala mikro, kecil, dan menengah di 26 provinsi, dengan total populasi unggas mencapai 53 juta ekor.
Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencakup 17 provinsi.
“Perluasan ini menunjukkan semakin banyak daerah yang terakomodasi dalam kebijakan stabilisasi harga pangan,” jelas Maino Dwi Hartono.
Pada tahap awal, diperkirakan 213,1 ribu ton akan segera disalurkan, sementara sisa 28,8 ribu ton disiapkan untuk mengantisipasi tambahan peternak baru, termasuk sektor peternakan babi yang masih dalam proses pengajuan.
Berdasarkan pemantauan Badan Pangan Nasional, harga jagung pakan di tingkat peternak per 27 April 2026 telah mencapai Rp6.758/kg, atau 16,52% di atas HAP.
Melalui program SPHP, pemerintah menetapkan harga: Rp5.000/kg di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500/kg di tingkat peternak
Distribusi dilakukan melalui koperasi dan asosiasi peternak yang telah terdaftar dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian.
Kenaikan harga jagung pakan dinilai berpotensi berdampak langsung pada harga daging ayam dan telur ayam ras. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa komoditas daging ayam termasuk penyumbang inflasi tertinggi sepanjang tahun berjalan, bersama emas perhiasan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa tren inflasi dari sektor pangan perlu terus diwaspadai.
“Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas dengan kontribusi inflasi terbesar sejak awal tahun,” jelasnya.
Meski demikian, jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga mulai menurun: Telur ayam ras: 98 daerah naik, 184 daerah turun dan daging ayam ras: 89 daerah naik, 203 daerah turun,
BACA JUGA: Kemenperin Genjot SDM Industri Kompeten, Dorong Daya Saing Manufaktur dan Serapan Tenaga Kerja
Pemerintah menegaskan bahwa penyaluran SPHP harus mempertimbangkan kondisi di lapangan, khususnya di wilayah sentra produksi jagung. Hal ini penting agar kebijakan tidak menekan harga di tingkat petani saat panen raya.
Dengan strategi distribusi yang tepat, pemerintah berharap dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan petani jagung dan peternak unggas, sekaligus menekan laju inflasi pangan nasional.
Melalui sinergi antara Badan Pangan Nasional, Perum Bulog, dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, program SPHP jagung diharapkan menjadi solusi konkret dalam menjaga stabilitas harga pakan dan ketahanan pangan nasional sepanjang 2026. (KSC)
TIM REDAKSI





