KLIKSUMUT.COM | GUNUNGSITOLI – Polemik pemasangan bronjong di proyek Jembatan Idano Moawo, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias, akhirnya terjawab. Di tengah ramainya tudingan di media sosial yang menyebut pekerjaan dilakukan asal- asalan tanpa penggalian pondasi, pihak pelaksana proyek memberikan klarifikasi resmi bahwa bronjong tersebut memang bukan struktur utama jembatan.
Klarifikasi ini penting mengingat Jembatan Idano Moawo merupakan urat nadi logistik dan ekonomi yang sangat vital bagi masyarakat Kepulauan Nias.
Proyek yang sedang berjalan adalah Pekerjaan Penggantian Lantai Jembatan dan Balok Girder Idano Moawo pada Ruas Jalan Provinsi Gunungsitoli – Afia (PHTC-5A) dengan panjang 25 meter. Proyek ini dilaksanakan oleh penyedia jasa CV. Surya Sejahtera Perkasa di bawah komando Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi dan Cipta Karya UPTD Gunungsitoli.
Proyek strategis ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp 4.399.437.152,00.
Dalam beberapa minggu terakhir, santer beredar di media sosial video dan foto yang menampilkan tumpukan bronjong di sisi jembatan. Narasi yang dibangun menyebut kontraktor tidak melakukan penggalian pondasi sama sekali, sehingga bronjong hanya diletakkan di atas tanah dan dinilai tidak akan kuat menahan beban.
Isu ini cepat menyebar karena memang perhatian publik terhadap jembatan ini sangat tinggi. Seperti yang terdokumentasi di akun resmi Pemko Gunungsitoli dan Info Sumut pada pertengahan Juli 2026, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution bersama Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli melakukan inspeksi mendadak ke lokasi jembatan.
Dalam berbagai video reel Instagram @infosumut dan Facebook RRI Gunungsitoli yang tayang 9-21 Juli 2026, terlihat jelas kondisi Jembatan Moawo sebelum diperbaiki dan sangat memprihatinkan. Lantai jembatan berlubang, besi pembatas berkarat, lebar hanya sekitar 4 meter, dan sering menimbulkan antrian kendaraan berjam- jam. Gubernur bahkan sempat menggelar pertemuan malam hari di bawah tenda sederhana bersama warga untuk mendengar langsung keluhan sopir, nelayan, dan pedagang yang setiap hari melintas. Maka tidak heran ketika ada pekerjaan perbaikan, sorotan warga sangat tajam.
Menanggapi isu tersebut, Pelaksana Lapangan CV. Surya Sejahtera Perkasa, Haris Ifawan Zega, ST, angkat bicara. Pada hari Rabu, 1 Oktober 2026, kepada awak media ia menegaskan bahwa informasi yang beredar adalah tidak benar dan menyesatkan karena salah memahami metode kerja.
Haris menjelaskan secara teknis, ada dua konstruksi yang berjalan paralel di lokasi. Pertama adalah jembatan utama Idano Moawo yang akan diganti lantai dan balok girder-nya. Kedua adalah Jembatan Bailey, yaitu jembatan rangka baja sementara yang dipasang di samping jembatan utama untuk pengalihan arus lalu lintas agar ekonomi tidak lumpuh total selama perbaikan.
“Nah, bronjong yang kami pasang itu bukan pondasi jembatan utama. Itu hanya sebagai penyangga atau dudukan sementara untuk Jembatan Bailey. Jadi memang tidak perlu galian pondasi dalam, karena sifatnya sementara untuk pengalihan arus lalu lintas,” jelas Haris.
Ia menambahkan, jika bronjong tersebut difungsikan sebagai penahan tanah abutment jembatan permanen, tentu metode kerjanya akan berbeda dan wajib menggunakan pondasi dalam, cerucuk, dan penggalian sesuai gambar perencanaan. Namun untuk dudukan Bailey yang hanya akan dipakai beberapa bulan, metode bronjong permukaan sudah sesuai dengan metode kerja yang telah disetujui konsultan pengawas dan Dinas.
Pantauan di lapangan pada 2 Oktober 2026 memperkuat pernyataan tersebut. Di lokasi terlihat Jembatan Bailey sudah terpasang kokoh dan arus kendaraan roda dua maupun roda empat masih bisa melintas secara bergantian.
Untuk aspek keselamatan, pihak pelaksana juga telah menerapkan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Terpasang jelas rambu besar bertuliskan “MOHON MAAF JALAN DITUTUP ADA PERBAIKAN JEMBATAN” di kedua sisi pendekat jembatan. Selain itu dipasang traffic cone, police line, serta petugas pengatur lalu lintas yang siaga menggunakan helm proyek dan rompi K3 berwarna terang.
Haris menambahkan, semua tahapan ini telah melalui persetujuan. “Sudah sesuai perencanaan dan metode kerja yang ada di dokumen kontrak. Kami juga diawasi oleh konsultan dan UPTD,” tambahnya.
Untuk memahami urgensi proyek ini, perlu melihat konteks historis Jembatan Idano Moawo. Berdasarkan arsip pemberitaan Pemko Gunungsitoli, jembatan ini berada di Jalan Yos Sudarso, Gamo, dan menjadi satu-satunya akses utama yang menghubungkan pusat Kota Gunungsitoli dengan wilayah Kabupaten Nias Utara dan pintu masuk ke daerah lainnya.
Kerusakan jembatan yang terjadi sejak awal 2026 telah berdampak pada distribusi logistik, hasil pertanian, dan akses pendidikan. Pada video dokumentasi Gubernur Bobby Nasution 17 Juli 2026, terlihat Gubernur menggunakan rompi kuning bertuliskan Gubernur Sumut saat memeriksa langsung kekuatan jembatan bersama tim teknis.
Komitmen Pemprov Sumut saat itu adalah melakukan total repair, bukan tambal sulam. Oleh karena itu, penggantian lantai dan balok girder menjadi solusi permanen yang diambil.
Pemasangan Jembatan Bailey sebagai jembatan darurat adalah praktik umum dalam pekerjaan jembatan di seluruh Indonesia. Seperti yang juga terjadi di Aceh Tengah dan Morowali dimana Polri dan Brimob membantu membangun jembatan darurat dengan bronjong sebagai bantalan, fungsinya memang hanya sementara.
Harapan Agar Masyarakat Tidak Terprovokasi
Dengan adanya klarifikasi ini, pihak kontraktor dan Pemprov Sumut berharap masyarakat Nias tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak utuh di media sosial.
Masyarakat diminta untuk melihat keseluruhan konteks pekerjaan. Proyek dengan nilai Rp 4,3 miliar ini memiliki masa pemeliharaan dan diawasi berlapis, mulai dari UPTD, konsultan pengawas, hingga Inspektorat.
BACA JUGA: Dugaan Pungutan SPP Komite di SMKN 1 Gunungsitoli Kacabdisdik Aancam Sanksi Disiplin
Jika ada kejanggalan teknis pada struktur utama, tentu akan menjadi temuan audit. Namun untuk bronjong penyangga Bailey, masyarakat diminta untuk memahami bahwa itu memang dirancang sebagai konstruksi non-permanen.
Pemerintah juga mengimbau pengguna jalan untuk tetap berhati-hati, mematuhi rambu, dan mengikuti arahan petugas di lapangan selama proses perbaikan berlangsung hingga selesai sesuai jadwal kontrak.
Keberhasilan proyek Jembatan Idano Moawo diharapkan dapat mengakhiri penderitaan panjang pengguna jalan yang selama bertahun-tahun harus melintasi jembatan sempit dan rusak, serta menjadi bukti kehadiran negara dalam membangun konektivitas di wilayah kepulauan terluar Sumatera Utara. (KSC)








