KLIKSUMUT.COM | LONDON – Pasar kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) China mulai kehilangan momentum. Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) dan plug-in hybrid (PHEV) di Negeri Tirai Bambu tercatat turun 5 persen secara tahunan menjadi sekitar 980.000 unit pada Juli 2026.
Pelemahan pasar kendaraan listrik China terjadi ketika industri EV global justru menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data Benchmark Mineral Intelligence (BMI) yang dilansir Reuters, penjualan EV dunia pada Juli 2026 mencapai 1,85 juta unit, meningkat 9 persen dibandingkan Juli tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut sekaligus memperpanjang tren positif pasar kendaraan listrik global selama lima bulan berturut-turut. Secara kumulatif, penjualan EV dunia sepanjang Januari-Juli 2026 telah mencapai sekitar 11,5 juta unit.
Meski pertumbuhannya melambat, China tetap menjadi pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Namun, persaingan domestik yang semakin ketat membuat produsen otomotif China mulai mengalihkan perhatian ke pasar internasional.
Data penjualan otomotif China menunjukkan ekspor kendaraan melonjak 88,2 persen menjadi 923.000 unit pada Juli 2026.
Khusus kendaraan listrik dan plug-in hybrid, pengiriman ke luar negeri bahkan meroket 147,8 persen secara tahunan. Angka tersebut berbanding terbalik dengan penjualan domestik yang justru mengalami penurunan 3,9 persen.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa ekspor kendaraan listrik semakin penting bagi produsen otomotif China untuk menjaga pertumbuhan di tengah ketatnya persaingan di pasar dalam negeri.
Produsen EV China kini semakin agresif memperluas pasar ke berbagai kawasan, mulai dari Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin hingga Timur Tengah.
Di tengah perlambatan China, Eropa justru mencatat pertumbuhan yang jauh lebih kuat.
Data BMI menunjukkan penjualan kendaraan listrik di Eropa mencapai sekitar 450.000 unit pada Juli 2026, atau meningkat 33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejumlah negara mencatat lonjakan signifikan. Penjualan EV di Prancis tumbuh 81 persen, Jerman 46 persen, sedangkan Inggris meningkat 43 persen.
Pertumbuhan tersebut salah satunya didorong kembali bergairahnya program insentif atau subsidi kendaraan listrik di sejumlah negara Eropa.
Perkembangan ini membuat peta pertumbuhan industri kendaraan listrik global mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya China menjadi motor utama pertumbuhan, kini Eropa mulai tampil sebagai salah satu sumber pertumbuhan terbesar.
Kondisi berbeda terjadi di Amerika Utara. Penjualan EV di kawasan tersebut turun 27 persen menjadi sekitar 140.000 unit pada Juli 2026.
Penurunan tersebut terjadi setelah berakhirnya kredit pajak kendaraan listrik federal di Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi salah satu faktor pendorong pembelian mobil listrik.
Sementara itu, penjualan kendaraan listrik di kawasan lainnya justru melonjak 97 persen menjadi sekitar 280.000 unit.
BACA JUGA: Kontraktor Raksasa Mobil Listrik BYD di Brazil Bantah ‘Kondisi seperti Perbudakan’ di Pabriknya
Prospek Mobil Listrik Global Masih Positif
Meski pasar China mulai melambat, prospek industri kendaraan listrik secara global masih dinilai positif.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan penjualan mobil listrik dunia dapat mencapai sekitar 23 juta unit pada 2026. Angka tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 28 persen dari total penjualan mobil global.
Artinya, kendaraan listrik semakin menjadi bagian penting dalam industri otomotif dunia.
Bagi produsen mobil listrik China, perlambatan pasar domestik kemungkinan akan semakin mendorong strategi ekspansi ke pasar luar negeri. Persaingan pun diperkirakan semakin sengit, terutama di Eropa dan kawasan berkembang yang tengah mengalami pertumbuhan permintaan EV.
Dengan demikian, China masih memimpin dari sisi volume penjualan kendaraan listrik, tetapi laju pertumbuhannya mulai melambat. Sebaliknya, Eropa dan sejumlah pasar lainnya berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri EV global. (KSC)








