KLIKSUMUT.COM – Di tengah gemerlap sepak bola nasional, nama Muhammad Alfharezzi Buffon kini menjadi sorotan publik. Namun di balik kiprahnya bersama Borneo FC Samarinda, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu pegawai negeri yang penuh doa, pengorbanan dan ketulusan.
Bukan sekadar pemain sepak bola nasional, Alfharezzi Buffon adalah simbol mimpi yang tumbuh dari kesederhanaan, disiplin dan kasih sayang keluarga.
Muhammad Alfharezzi Buffon merupakan putra dari Nailul Hidayah Syarkoni, pegawai Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI), Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia.
Nama “Buffon” yang melekat padanya bukan tanpa alasan. Sang ibu terinspirasi dari legenda kiper Italia Gianluigi Buffon, berharap putranya tumbuh menjadi sosok hebat, disiplin dan berprestasi di dunia sepak bola.
“Saya bilang ke teman-teman di kantor bahwa anak saya main bola dengan semua suka dukanya. Saya merasa saya membutuhkan doa dan dukungan dari lingkungan saya. Saya hanya terus bekerja dan terus berdoa,” ujar Nailul Hidayah.
Sejak kecil, Alfharezzi tumbuh dengan bola di kaki dan semangat besar untuk mengejar cita-cita. Di saat yang sama, sang ibu tetap menjalankan tugas negara sebagai aparatur sipil negara yang mengurus pendidikan agama Islam bagi jutaan siswa di Indonesia.
Perjalanan karier Alfharezzi Buffon tidak selalu mulus. Ia meniti karier dari kompetisi usia muda, berpindah klub, menghadapi cedera hingga melewati masa-masa penuh keraguan.
Namun di setiap titik sulit, ada doa dan dukungan ibunya yang tak pernah berhenti mengalir.
Kini, kerja keras tersebut membuahkan hasil. Bersama Borneo FC Samarinda, Alfharezzi berhasil menembus pentas sepak bola nasional dan menjadi salah satu talenta muda yang diperhitungkan.
Setiap gol dan penampilannya di lapangan menjadi bukti bahwa mimpi anak seorang pegawai negeri juga bisa bersinar di level tertinggi sepak bola Indonesia.
Di lingkungan Direktorat PAI Kemenag, Nailul Hidayah dikenal sebagai pegawai yang teliti dan berdedikasi tinggi. Namun di rumah, ia adalah sosok ibu sederhana yang selalu hadir mendukung anaknya.
Mulai dari menyiapkan makan malam setelah latihan, mendengar keluh kesah anaknya, hingga terus memberi semangat saat karier sepak bola Alfharezzi menghadapi tantangan.
Ia tak pernah menganggap sepak bola sebagai mimpi yang terlalu tinggi untuk dicapai.
“Anak-anak kami bukan hanya belajar di kelas. Mereka belajar dari cara kami bekerja, dari cara kami tidak menyerah. Ezzi belajar dari lapangan, tapi juga dari meja kerja saya,” tutur Nailul.
Di tengah kesibukannya sebagai pesepak bola profesional, Alfharezzi tetap melanjutkan pendidikan tinggi. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PKJR) di Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon.
Pilihan kampus tersebut menjadi bentuk perhatian sang ibu agar putranya tidak hanya sukses di lapangan hijau, tetapi juga memiliki pendidikan yang kuat dan pemahaman agama yang baik.
Nailul berharap putranya tumbuh menjadi pesepak bola nasional yang saleh, berkarakter dan mampu menginspirasi generasi muda Indonesia.
BACA JUGA: Borneo FC Tumbangkan Persita 2-0
Kisah Muhammad Alfharezzi Buffon menjadi gambaran nyata bahwa kesuksesan seorang atlet tidak pernah berdiri sendiri. Di balik sorotan stadion dan gemuruh suporter, ada orang tua yang bekerja dalam diam, berdoa tanpa lelah dan berjuang dengan penuh ketulusan.
Ketika Alfharezzi berlari mengejar bola bersama Borneo FC, ia bukan hanya membawa nama klub. Ia juga membawa harapan, doa dan pengorbanan seorang ibu yang selama ini setia mendukung dari balik meja kerja dan sujud panjang di malam hari.
Kisah ini menjadi inspirasi bahwa mimpi besar bisa lahir dari keluarga sederhana, selama dibarengi kerja keras, pendidikan dan doa yang tidak pernah putus. (KSC)
TIM REDAKSI





