Kisah Inspiratif Arwi Tambunan: Dari Pabrik Garmen Hingga Punya Tiga Cabang Toko Sembako

Kisah Inspiratif Arwi Tambunan: Dari Pabrik Garmen Hingga Punya Tiga Cabang Toko Sembako
BURUH PABRIK JADI PENGUSAHA TOKO SEMBAKO: Arwi Tambunan, pemuda Jambi, sukses kelola tiga cabang toko sembako sekaligus bercocok tanam di pekarangan. (FOTO: Dalil Harahap)

KLIKSUMUT.COM | JAMBI ~ Di balik kesibukannya mengatur tiga cabang toko sembako, Arwi Tambunan selalu menyempatkan diri menatap lahan kosong di pekarangan tokonya. Pemuda 24 tahun itu menanam buncis, terong, jagung, kangkung, dan bayam. Baginya, tanah itu bukan sekadar pekarangan, tetapi sumber ketenangan sekaligus strategi menghadapi kenaikan harga bahan pokok.

Arwi pernah menempuh perjalanan panjang sebelum menemukan jalan usahanya. Ia merantau ke Batam selama empat tahun dan bekerja di pabrik garmen.

“Rezeki saya tidak seberuntung teman-teman,” katanya jujur.

Pada 2024, ia memutuskan pindah ke Jambi untuk ikut adiknya, Hasian Tambunan, menjalankan usaha sembako. Pilihan itu terbukti tepat. Kini, selain mengelola toko, Arwi juga mempekerjakan puluhan orang.

“Kalau bisa kita menyediakan lapangan pekerjaan,” ujarnya menegaskan.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Astra Dukung Pemberdayaan Ekonomi Desa Petani Kopi Garut

Kebebasan dan Fokus di Usaha Sendiri

Arwi mengaku, bekerja di pabrik menuntut disiplin ketat, target, dan jadwal yang tidak bisa diatur sendiri. Usaha sendiri memberinya kebebasan itu.

“Bila penghasilan di toko sembako lumayanlah dibanding kerja pabrik. Kita bisa fokus menjalankan usaha dan mengatur waktu sendiri,” katanya.

Selain itu, sebagai pemuda yang sudah membuka beberapa cabang, ia merasa bangga bisa berkontribusi pada perekonomian lokal.

“Bisa membuka lapangan kerja dan membantu orang lain, itu rasanya menyenangkan,” tambahnya.

BACA JUGA: Petani Berastagi Cemas, Harga Jual Sayur Merosot

Pekarangan yang Menghasilkan

Kesibukan Arwi tidak hanya di toko. Lahan kosong di belakang tokonya menjadi area bercocok tanam. Menjelang Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri, harga bahan pokok mulai merangkak naik di Jambi. Arwi menanam sayuran untuk membantu menekan biaya kebutuhan rumah tangga.

“Paling terasa itu yang naik sayuran. Bayam dulunya Rp2.000 per ikat, sekarang Rp6.000 per ikat. Lumayan bisa menekan inflasi dalam rumah tangga,” ujarnya sambil tersenyum.

BACA JUGA: Petani Barito Timur Tanam Padi Gogo Varietas Lungkung, Dorong Ketahanan Pangan Nasional

Dari Tanah Sumut ke Kota Jambi

Arwi adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Semua saudaranya sudah merantau ke Jambi untuk berdagang sembako. Lulusan Pondok Pesantren Purba Baru, Mandailing Natal, ini dikenal tekun, ulet, dan gemar bergurau, tetapi serius dalam bekerja.

Kini, Arwi menikmati hasil jerih payahnya. Dengan usaha yang berkembang dan bercocok tanam di pekarangan, ia tidak hanya meningkatkan kesejahteraannya, tetapi juga membuka peluang kerja bagi banyak orang.

Dari pengalaman merantau hingga membangun usaha sendiri, Arwi menunjukkan bahwa keberanian, kerja keras, dan kreativitas bisa mengubah hidup. (KSC)

REPORTER: Dalil Harahap

Pos terkait