Petani Berastagi Cemas, Harga Jual Sayur Merosot

Petani Berastagi Cemas, Harga Jual Sayur Merosot
TANAMAN SAYUR: Jipta Tarigan Jipta Tarigan tengah merawat bibit kol di lahan pembibitannya di Berastagi, Karo. (FOTO: Herman Harahap

KLIKSUMUT.COM | KARO – Berastagi terkenal sebagai kota wisata dengan udara dingin dan sejuk. Pemandangan pegunungan serta perkebunan yang hijau membuat kota ini menjadi bagian menarik dari kawasan pegunungan Bukit Barisan. Kota yang berjarak sekitar satu jam lebih dari Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara (Sumut), ini mengandalkan sektor pariwisata dan pertanian sebagai sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sektor pertanian menjadi tumpuan kehidupan sebagian besar penduduk Berastagi. Mayoritas masyarakat mengandalkan hasil pertanian sebagai sumber penghidupan. Tidak heran jika kota ini melahirkan petani-petani tangguh yang terus mengembangkan inovasi di bidang pertanian.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Harga Cabai Merah Makin Pedas, Kantong Warga Tapaktuan Ikut Panas

Jipta Tarigan, Petani Inspiratif Berastagi

Salah seorang petani sukses di Berastagi adalah Jipta Tarigan (53). Berasal dari keluarga petani tangguh, Jipta melanjutkan jejak ayahnya yang pernah mengekspor sayuran ke Taiwan, Malaysia, dan Singapura.

Sejak 2010, ia fokus mengembangkan usaha pembibitan sayur di berbagai lahan bersih dan asri, seperti Jalan Udara Kelurahan Gundaling II, Desa Rumah Berastagi, dan Kecamatan Simpang Empat.

Jipta berhasil membudidayakan berbagai bibit sayur, antara lain kol, cabe merah, brokoli, terong, dan selada, yang dijual ke para petani di sekitar Berastagi.

BACA JUGA: Harga Cabai Merah Keriting di Binjai Tembus Rp100 Ribu/kg

Meski demikian, Jipta kini cemas akibat harga jual sayur yang merosot drasti beberapa dua bulan terakhir. Musim panen yang selayaknya mendatangkan suka cita, kini berganti kesedihan.

“Saat ini harga fluktuasi sayur mayur tidak menentu, terlebih di bulan Oktober dan November 2025. Masyarakat Karo yang membeli bibit jauh berkurang dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Jipta kepada kliksumut.com, Selasa (18/11/2025).

Ia menambahkan, biasanya musim penghujan menjadi waktu ramai para petani membeli bibit kubis, namun saat ini permintaan menurun karena harga sayur di pasaran tidak stabil. Harga kol di pasaran hanya Rp 2.000 per kilogram.

BACA JUGA: Harga Stabil, Stok Aman! Polres Dairi Bersama Pemkab dan Bulog Gelar Pasar Murah

“Mudah-mudahan ke depannya harga pertanian bisa naik,” ujarnya.

Sementara itu, petani lain, Haga Ginting (44) dari Desa Rumah Berastagi, mengungkapkan tantangan harga rendah yang mengancam ekonomi petani.

“Tahun ini saya sudah dua kali menanam kol tapi harga jualnya sangat murah, hanya Rp 900 per kilogram. Saat ini saya kembali menanam 5.000 batang kol di Desa Kurbakti, Kecamatan Merdeka, mudah-mudahan nantinya bisa mendapat harga yang lebih baik,” ujarnya sendu. (KSC)

REPORTER: Herman Harahap

Pos terkait