Dikutip situs resmi Provinsi Aceh, Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh 1848 dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar.
Cut Nyak Dhien, mulai ikut angkat senjata dan berperang di medan pertempuran mengusir Belanda pada 1880. Itu tidak lepas dari tewasnya suami Cut Nyak Dhien, Teuku Cek Ibrahim Lamnga saat bertempur pada 29 Juni 1878.
Kematian suaminya membuat Cut Nyak Dhien begitu sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan penjajah Belanda.
Pada 1880, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar dan mempersilahkan ikut bertempur di medan perang.
Bergabungnya Cut Nyak Dhien berhasil meningkatkan moral semangat perjuangan rakyat Aceh untuk melawan balatentara Belanda.
Kemudian perang dilanjutkan secara gerilnya dan dikorbankan perang fisabilillah.
Guru Besar Universitas Indonesia dan juga pakar politik Prof Dr Bahktiar Aly mengatakan kekuatan wanita Aceh berbicara masalah gender, Aceh dapat dijadikan contoh bagilah daerah lain di Indonesia. Sejarah panjang yang dimiliki daerah ini membuktikan bahwa para wanita Aceh telah mengukir sejaran nasional dan mendarmabaktikan dirinya dalam berbagai bidang, baik sebagai pemimpin di tingkat paling rendah sampai dengannya pemimpin tertinggi di masyarakat.
BACA JUGA: ICMI Muda Sumut Minta Menag Mengklarifikasi dan Minta Maaf Atas Ucapannya
Ia menjelaskan dalam struktur masyarakat wanita mempunyai otonomi yang cukup, yang mana tampak pada sebutan po rumoh bagi wanita. (Sufi, 1997). Di bidang lain terlihat dari adanya wanita yang menjadi Sultanah (wanita kepala pemerintahan Kerajaan Aceh), laksamana (pemimpm angkatan perang), uleebalang (kepala kenegerian) dan tidak sedikit yang berperan sebapai pemimpin perlawanan terhadap penjajah.
“Peran wanita di Aceh dalam bidang peperangan secara panjang lebar telah diuraikan oleh H.C. Zentgraff. Dia menyebut para wanita Aceh sebagai “de leidster van het verzet” (pemimpin perlawanan) dan grandes dames (wanita-wanita besar). Keberanian dan jiwa kesatriaan para wanita Aceh melebihi kodrat wanita yang lain, lebih-lebih dalam mempertahankan cita-cita kebangsaan dan keagamaannya dan wanita Aceh berada, baik di belakang layar maupun secara terang-terangan menjadi pemimpin perlawanan melawan penjajahan. Wanita Aceh rela menerima hidup dalam kancah peperangan. Di balik tangan halus mereka serta sifat lemah-lembut, kulit halus, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya di tangan pejuang wanita Aceh”, terangnya.
Presiden pertama Republik Indonesia Bung Karno, salah seorang proklamator kemerdekaan RI, pernah mengingatkan kepada kita dengan mengatakan “hanya bangsa yang besarlah Yangon menghormati pahlawan-pahlawannya”. Para pahlawan yang telah berjuang mati-matian, mengorbankan harta benda dan bahkan jiwa demi mempertahankan kehormatan nusa, bangsa, dan agama. Mereka adalah manusia-manusia besar yang dilahirkan seirama dengan panggilan sejarah. Merekalah yang telah menghantarkan kita pada kondisi seperti saat ini. Salah satu daerah yang banyak menyimpan kenangan sejarah terhadap perlawanan para pahlawan atau pejuang adalah Aceh.








