KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat pengembangan industri bambu nasional melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pembangunan ekosistem industri bambu yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah strategis tersebut dijalankan melalui program Akademi Komunitas Bambu (AKB) yang dikembangkan Direktorat Jenderal Industri Agro.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa bambu memiliki potensi besar sebagai komoditas berbasis sumber daya alam terbarukan yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan.
“Pengembangan industri bambu sejalan dengan arah kebijakan industri hijau karena bambu merupakan material berkelanjutan yang memiliki prospek besar untuk industri konstruksi, furnitur, kerajinan, hingga berbagai produk inovatif lainnya,” ujar Menperin Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/5/2026)
Program Akademi Komunitas Bambu dirancang untuk memperkuat struktur industri bambu nasional, terutama dalam penyediaan bahan baku berkualitas yang siap digunakan sektor industri.
Melalui program tersebut, peserta mendapatkan pelatihan teknis mulai dari budidaya bambu, proses pengawetan, hingga pengolahan bambu agar memenuhi standar kebutuhan industri hilir.
Kemenperin berharap kualitas produk bambu nasional terus meningkat sehingga mampu memberikan nilai tambah lebih besar sekaligus memperkuat daya saing produk bambu Indonesia di pasar domestik maupun internasional.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa program AKB pertama kali diinisiasi di Bali pada 2025 dan berhasil melahirkan 25 Master Bambu melalui pendekatan training of trainers (ToT).
“Program Akademi Komunitas Bambu dirancang untuk membangun komunitas SDM unggul yang mampu menjadi penggerak pengembangan industri bambu di daerah. Fokus pengembangannya adalah membentuk material center atau pusat logistik bambu penyedia bahan baku siap pakai,” ungkap Putu.
BACA JUGA: Kemenperin Dorong Sertifikasi SNI Drone Pertanian, Perkuat Daya Saing Industri Alsintan Nasional
Kabupaten Bangli disebut sebagai salah satu wilayah potensial dalam pengembangan ekosistem bambu nasional karena memiliki lahan yang mendukung, fasilitas logistik bambu, serta mesin pengolahan yang sudah tersedia.
Pada Tahun Anggaran 2026, program AKB akan difokuskan pada peningkatan kualitas dan volume bahan baku bambu, termasuk penguatan teknik pascapanen dan treatment atau pengawetan bambu.
Kegiatan pelatihan akan menggunakan komposisi 30 persen teori dan 70 persen praktik lapangan agar peserta memiliki keterampilan teknis yang lebih aplikatif.
Peserta program diprioritaskan berasal dari penyedia bahan baku bambu yang berpotensi menjadi pelatih di daerah masing-masing. Selain kembali digelar di Bali, program ini juga direncanakan diperluas ke Daerah Istimewa Yogyakarta.
Untuk memperkuat pengembangan komunitas industri bambu, Kemenperin juga menggandeng sektor swasta melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR).
Salah satu kerja sama yang tengah dijajaki adalah dengan PT KT&G dalam pembangunan fasilitas pendukung Akademi Komunitas Bambu berupa asrama pelatihan dan fasilitas pengawetan bambu.
Selain itu, Direktorat Jenderal Industri Agro juga telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Bangli guna memastikan kesiapan pengembangan ekosistem bambu serta dukungan fasilitas CSR.
Putu menegaskan bahwa pengembangan industri bambu nasional membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar mampu tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
BACA JUGA: Kemenperin Terapkan WFH dan WFA, Layanan Publik Tetap Optimal dan Responsif
“Kami berharap industri bambu nasional dapat berkembang menjadi salah satu sektor unggulan berbasis sumber daya alam terbarukan yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing industri nasional,” pungkasnya.
Dengan dukungan pemerintah, penguatan SDM, dan pengembangan ekosistem industri hijau, bambu dinilai berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan masa depan Indonesia di pasar global. (KSC)
TIM REDAKSI







