KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Industri pangan semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu sektor strategis yang menjadi penopang utama pertumbuhan industri manufaktur Indonesia. Selain memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, sektor ini juga menjadi motor penggerak hilirisasi yang mampu menciptakan nilai tambah dari bahan baku lokal sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja di berbagai daerah.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) pangan membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Pembinaan IKM pangan menjadi tugas bersama karena jumlahnya mencapai 2,07 juta unit usaha atau 46,63 persen dari total unit usaha IKM nasional yang tersebar di seluruh Indonesia,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Senin (1/6/2026).
Menurut Menperin, sektor IKM pangan tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi daerah.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa pada Triwulan I Tahun 2026, industri makanan dan minuman menyumbang 38,35 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan, menjadikannya kontributor terbesar di sektor manufaktur nasional.
Tak hanya itu, kinerja ekspor industri pangan juga menunjukkan tren positif. Pada Februari 2026, nilai ekspor industri pangan mencapai USD4,47 miliar, atau berkontribusi sebesar 24,07 persen terhadap total ekspor industri pengolahan.
“Kinerja tersebut menunjukkan bahwa industri pangan merupakan salah satu sektor yang paling resilien dan memiliki prospek yang sangat baik untuk terus berkembang,” ujar Agus.
Dalam upaya memperkuat ekosistem IKM pangan, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) terus membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, asosiasi, hingga lembaga pendamping usaha.
Salah satu mitra strategis yang aktif mendukung pengembangan IKM pangan adalah Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) melalui program peningkatan kapasitas usaha, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, mengatakan bahwa salah satu contoh sukses pembinaan IKM pangan adalah PT Bogor Sari Nutrisi (BSN), produsen Yess Yoghurt yang berlokasi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Menurut Reni, PT Bogor Sari Nutrisi berhasil menunjukkan bagaimana sebuah IKM pangan mampu berkembang secara berkelanjutan melalui inovasi produk dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.
“PT Bogor Sari Nutrisi merupakan contoh baik bagi IKM pangan untuk terus berkembang melalui inovasi produk dan kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan konsumen. Perusahaan ini juga berhasil melakukan regenerasi usaha sehingga keberlangsungan bisnis dapat terjaga lintas generasi,” ujarnya saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi perusahaan tersebut.
Reni menilai perubahan perilaku konsumen saat ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku industri pangan. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan rasa, tetapi juga semakin peduli terhadap aspek keamanan pangan, kandungan gizi, dan kualitas produk.
“Produk yoghurt yang dihasilkan PT BSN menunjukkan kemampuan IKM dalam menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang. Ini menjadi bukti bahwa produk pangan lokal mampu bersaing jika didukung inovasi dan kualitas yang konsisten,” katanya.
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat turut menjadi peluang besar bagi industri olahan susu, khususnya produk yoghurt.
Meski demikian, pelaku IKM tetap dituntut untuk menjaga standar mutu, menerapkan sistem keamanan pangan, mengikuti tren pasar, serta memperkuat strategi pemasaran agar mampu bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha, Ditjen IKMA menjalankan berbagai program strategis seperti:
- Pendampingan sertifikasi keamanan pangan dan HACCP.
- Fasilitasi akses pasar domestik dan ekspor.
- Penguatan kemitraan usaha.
- Pendampingan pemasaran digital.
- Program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi.
- Program Indonesia Food Innovation (IFI).
- Transformasi Industri 4.0 untuk IKM.
Keberhasilan PT Bogor Sari Nutrisi juga mendapat apresiasi dari Direktur IKM Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Kemenperin, Afrizal Haris.
Menurutnya, kesuksesan perusahaan tersebut tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah dan lembaga pembina yang konsisten mendampingi pelaku usaha.
“Kami mengapresiasi peran Dinas Perindustrian Kabupaten Bogor dan Yayasan Dharma Bhakti Astra yang terus mendampingi IKM lokal. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan mitra industri menjadi kunci lahirnya IKM yang tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan,” ujar Afrizal.
BACA JUGA: Kemenperin Perkuat SDM Industri 4.0, Siapkan Talenta Manufaktur Menuju Indonesia Emas 2045
Ia berharap kisah sukses PT Bogor Sari Nutrisi dapat menjadi inspirasi bagi jutaan pelaku IKM pangan di Indonesia untuk terus berinovasi, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing produk lokal hingga mampu menembus pasar global.
Dengan jumlah lebih dari 2 juta unit usaha, kontribusi besar terhadap PDB manufaktur, serta kinerja ekspor yang terus meningkat, sektor industri pangan diproyeksikan akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dukungan pemerintah melalui berbagai program pembinaan, transformasi digital, hilirisasi industri, dan penguatan ekosistem usaha diyakini akan semakin memperkokoh posisi industri pangan Indonesia sebagai sektor unggulan yang mampu bersaing di tingkat global. (KSC)
TIM REDAKSI







