KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus memperkuat dan memperdalam hubungan bilateral dengan negara mitra strategis guna mendukung kepentingan nasional serta pembangunan ekonomi jangka panjang. Salah satu kerja sama strategis yang paling komprehensif dan berkelanjutan dijalin Indonesia dengan Tiongkok, mencakup sektor perdagangan, investasi, hingga pengembangan industri bernilai tambah.
Penguatan hubungan Indonesia–Tiongkok tersebut semakin nyata melalui peran aktif berbagai pemangku kepentingan, salah satunya China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI). Selama dua dekade terakhir, CCCI berperan sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan dunia usaha, sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Momentum kerja sama Indonesia–Tiongkok semakin diperkuat melalui kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada November 2024, yang menjadi tonggak penting hubungan bilateral kedua negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kolaborasi Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, mengingat kedua negara merupakan anggota G20 dengan jumlah penduduk dan kekuatan ekonomi signifikan.
BACA JUGA: OJK Minta Bank Blokir 31.382 Rekening Terindikasi Judi Online
“Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, Tiongkok berada di urutan kedua dunia, sementara Indonesia dengan 285 juta jiwa berada di urutan keempat. Tiongkok memiliki PDB USD17,8 triliun dan Indonesia USD1,4 triliun. Ini merupakan tonggak penting bagi terbukanya peluang kolaborasi dan kerja sama antara kedua negara,” ujar Airlangga saat menyampaikan keynote speech pada 20th Anniversary Celebration of the China Chamber of Commerce in Indonesia, Jumat (9/1/2026).
Tiongkok saat ini menjadi mitra dagang utama Indonesia, dengan total nilai perdagangan mencapai USD135,2 miliar pada 2024. Selain perdagangan, kemitraan strategis kedua negara juga terus diperkuat melalui inisiatif Two Parks Twin Countries (TCTP).
Inisiatif TCTP merupakan kerangka kerja sama strategis yang bertujuan memperkuat kolaborasi industri, memfasilitasi investasi, serta mengintegrasikan rantai pasok antara Indonesia dan Tiongkok.
Nota Kesepahaman (MoU) TCTP yang pertama kali diluncurkan pada 2021 telah diperbarui pada Mei 2025, ditandatangani langsung oleh Menko Airlangga dan Menteri Perdagangan RRT Wang Wentao, serta disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang. Pembaruan MoU tersebut mencerminkan kuatnya komitmen politik kedua negara di tingkat tertinggi.
Sebagai bagian dari implementasi TCTP, telah dilakukan penandatanganan 16 proposal proyek antara perusahaan-perusahaan asal Fujian dan mitra Indonesia, dengan nilai total mencapai Rp36,4 triliun atau sekitar USD2,19 miliar.
Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis, antara lain: logam dasar, pengolahan daging dan makanan laut, tekstil dan furniture, teh, drone dan baterai serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)
BACA JUGA: Indonesia dan Italia Perkuat Kemitraan Strategis, Perdagangan Bilateral Capai USD 3,9 Miliar
“Ke depan, Indonesia menyambut baik kolaborasi yang lebih dalam di bidang infrastruktur, logistik, industri hilir, manufaktur, energi terbarukan, ekonomi digital, AI, komputasi kuantum, ketahanan pangan, kesehatan, serta pengembangan sumber daya manusia,” jelas Airlangga.
Di sisi investasi, Pemerintah Indonesia terus berkomitmen meningkatkan daya saing nasional melalui reformasi regulasi, pembangunan infrastruktur, serta konsistensi kebijakan. Pemerintah juga telah membentuk gugus tugas percepatan program strategis guna mempercepat realisasi investasi dan memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi jangka panjang yang menarik.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Transmigrasi, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Ketua CCCI, serta Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian. (KSC)
TIM REDAKSI






