Indonesia Masuk 20 Bursa Saham Terbesar Dunia

Indonesia Masuk 20 Bursa Saham Terbesar Dunia
OJK Provinsi Sumatera Utara Khoirul Muttaqien (kiri) saat menyerahkan cinderamata kepada Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik. (kliksumut.com/swisma)

REPORTER: Swisma

KLIKSUMUT.COM | MEDAN– Dalam beberapa tahun terakhir, dunia investasi di Indonesia terus mengalami perkembangan yang sangat signifikan.

Perkembangan itu tidak hanya dari sisi jumlah investor ritel, tetapi juga dari nilai kapitalisasi pasar yang mencerminkan seberapa besar kekuatan finansial sebuah perusahaan di bursa.

Hingga awal Agustus 2025 ini, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tembus Rp13.400 triliun atau setara kurang lebih 800 miliar dolar AS.

Capaian ini sekaligus mengantarkan Indonesia masuk dalam daftar 20 bursa saham terbesar di dunia.

Bacaan Lainnya

“Jadi saat ini BEI mencatat sejarah baru dengan dengan menempati posisi BEI sebagai bursa saham terbesar di kawasan Asia Tenggara,” ungkap Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik saat menerima kunjungan Media OJK Sumatera Bagian Utara di Jakarta, Selasa (5/8/2025).

Disebutkan Jeffrey, keberhasilan ini tidak hanya tercermin dari kapitalisasi pasar. Aktivitas perdagangan di BEI pun menunjukkan tren positif, dengan nilai transaksi harian yang kini mencapai Rp13,4 triliun.

BACA JUGA: Bursa Bybit Kehilangan $1,5 Miliar dalam Peretasan Kripto Terbesar

Bahkan saat ini Indonesia berada di peringkat ke-11 bursa terbesar dunia dari sisi aktivitas perdagangan.

Pencapaian itu, katanya merupakan hasil transformasi pasar modal Indonesia yang terus bergerak menuju sistem yang lebih kokoh dan memiliki daya saing tinggi di tingkat internasional.

Untuk menjaga momentum ini, BEI berkomitmen memperluas diversifikasi produk dan layanan agar ekosistem investasi semakin inklusif dan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

Dijelaskannya pasar modal Indonesia kini tidak hanya fokus pada perdagangan saham tapi juga mengembangkan berbagai instrumen baru seperti bursa karbon, waran terstruktur, short selling.

Bahkan dalam waktu dekat ini akan menghadirkan liquidity provider serta instrumen repo.

Menurutnya langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari strategi besar BEI untuk memastikan keberlanjutan, relevansi, dan daya saing, baik di pasar domestik maupun global.

Jeffrey juga menyoroti peningkatan signifikan jumlah investor ritel di Indonesia. Tren ini menjadi sinyal positif bahwa kesadaran masyarakat terhadap pasar modal semakin meningkat.

Berdasarkan data hingga akhir Juli 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 17,4 juta orang.

Dari jumlah itu sekira 15 persen dari total investor nasional saat ini berasal dari wilayah Sumatra.

BACA JUGA: Satgas PASTI OJK: Kerugian Akibat Investasi Bodong Capai Rp142 Triliun

Pada 2024 saja, jumlah investor baru bertambah 2,7 juta, melampaui target awal sebesar 2 juta. Sementara itu, selama tujuh bulan pertama di 2025, sudah ada tambahan 2,5 juta investor baru.

Perkembangan ini, kata Jeffrey menunjukkan adanya kemajuan signifikan dalam literasi dan inklusi keuangan di masyarakat.

“Prioritas kami saat ini adalah terus memberikan edukasi, memperluas akses, serta memperkuat perlindungan bagi seluruh investor di Indonesia,” pungkasnya.

Pada kunjungan ke kantor BEI juga dihadiri Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara Khoirul Muttaqien bersama para Kepala OJK Daerah lainnya di wilayah Sumatera Bagian Utara. (KSC)

Pos terkait