Indonesia Kutuk Kunjungan Menteri Keamanan Israel ke Masjid Al-Aqsa

Indonesia Kutuk Kunjungan Menteri Keamanan Israel ke Masjid Al-Aqsa
Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel yang baru dan pemimpin partai sayap kanan Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi), menyapa para pendukungnya di Yerusalem pada 30 Desember 2022. (Foto: AFP/Menahem Kahana)

Kedatangan Ben-Gvir Picu Kemarahan Dunia Muslim

Kunjungan itu tidak saja dikecam dunia Muslim, tetapi juga negara-negara sekutu Israel.

Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh mengutuk kunjungan tersebut, dan menyebutnya sebagai “tantangan serius bagi emosi semua rakyat Palestina.”

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi menjelaskan lawatan Ben Gvir itu memang dianggap tindakan yang provokatif, dan mengundang reaksi sangat keras dari berbagai pihak, terutama rakyat Palestina.

“Posisi Al-Aqsa yang dianggap pada saat ini status quo di mana tidak boleh ada sebuah kegiatan berkaitan dengan penggunaan Masjid Al-Aqsa untuk komunitas non-muslim. Dalam hal ini orang-orang Yahudi tidak diperbolehkan beribadah di tempat itu karena itu sebagai tempat suci,” ujar Yon.

Hanya saja, lanjutnya, ada semacam keyakinan tentang Bukit Bait yang pernah berdiri sebelum ada Masjid Al-Aqsa, sehingga kelompok Yahudi garis keras selalu berusaha masuk ke sana.

Yon menilai kunjungan Ben Gvir ke Al-Aqsa merupakan isyarat bahwa ada semacam lampu hijau bagi kaum Yahudi garis keras untuk memaksakan diri memasuki kompleks Al-Aqsa. Hal ini tentu akan menimbulkan reaasi yang sangat besar, terutama dari Hamas yang menyatakan bahwa lawatan tersebut bisa memicu konflik militer.

Ia mengatakan, jika ketegangan yang terjadi itu tidak segera dinetralisir, konflik bersenjata bisa kembali terjadi. Apalagi, katanya, jika kunjungan Ben Gvir itu diikuti oleh rombongan peziarah Yahudi dalam jumlah besar yang memaksa masuk ke Al-Aqsa.

Yon mengharapkan Perdana Menteri Israel segera memberi penjelasan terkait kunjungan Ben Gvir ke Al-Aqsa. Jika tidak ada penjelasan, katanya, berarti ada persetujuan dari Netanyahu terhadap tindakan Ben Gvir.

Dia menegaskan dukungan terhadap Israel akan semakin melemah jika provokasi itu berujung pada timbulnya konflik bersenjata baru dengan Palestina. Bahkan, katanya, aksi Israel ini dapat mendorong masyarakat internasional yang pro-Palestina untuk berkonsolidasi. Jika suara dunia internasional bulat, menurut Yon, Israel akan dengan mudah dipaksa kembali ke meja perundingan untuk menyelesaikan solusi dua negara. Apalagi Yon melihat, saat ini pemerintahan Amerika di bawah Presiden Joe Biden relatif kurang mendukung Israel.

BACA JUGA: Polisi Israel Kembali Dikerahkan ke Masjid Al-Aqsa

Kunjungan Ben Gvir ke bekas kiblat pertama umat Islam itu adalah lawatan perdana anggota kabinet Israel dalam satu dasawarsa terakhir, setelah Menteri Keamanan Dalam Negeri Yitzhak Aharonovitch bersama Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman datang ke Al-Aqsa pada 2013.

Sebelum menjadi menteri, Ben Gvir pernah beberapa kali mengunjungi Al-Aqsa. Kunjungan itu berlangsung sejak ia menjadi anggota Knesset (parlemen Israel) pada April 2021.

Lawatan yang dilakukan politikus sayap kanan Ariel Sharon pada 2000, yang kemudian menjadi perdana menteri, menyebabkan pecahnya intifadah kedua yang berakhir pada 2005.

Kunjungan ke Al-Aqsa dibatasi dan mereka tidak diperkenankan untuk beribadah atau berdoa selama di sana. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, polisi Israel sering mengawal rombongan Yahudi yang melawat ke sana dan membiarkan mereka berdoa secara diam-diam.

Ben-Gvir, yang datang dengan pengawalan ketat aparat keamanan, mengatakan alasan kedatangannya adalah untuk menunjukkan “pemerintah Israel tidak akan menyerah kepada organisasi pembunuh, kepada organisasi teroris yang keji. Temple Mount adalah tempat paling penting bagi rakyat Israel,” jelasnya.

“Temple Mount terbuka untuk semua, Muslim dan Kristen datang ke sini, dan ya juga orang Yahudi. Dalam pemerintahan di mana saya juga anggotanya, tidak akan ada diskriminasi dan orang Yahudi akan datang dan mengunjungi Temple Mount. Kami menjelaskan kepada Hamas bahwa kami tidak menyerah, kami tidak menyerah, kami tidak gentar,” lanjutnya. (VOA)

Pos terkait