Diaspora Indonesia Adakan Upacara Tradisional di AS

Diaspora Indonesia Adakan Upacara Tradisional di AS
Umat Hindu di Washington DC dan sekitarnya melakukan persembahyangan Galungan bersama. (foto ilustrasi: VOA/Made Yoni)

Indonesia adalah negara yang kaya tradisi dan adat istiadat dari Sabang hingga Merauke. Berbagai tradisi itu masih melekat dan biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Namun bagaimana melaksanakan tradisi bagi warga Indonesia yang tinggal di luar negeri?

AS | kliksumut.comDiaspora Indonesia sering menyelenggarakan tradisi Indonesia di Amerika. Bahkan, salah seorang diaspora Indonesia juga menjadi penyelenggara acara atau event organizer.

Dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com bahwa Lilian Christaka, 38 tahun, yang sudah tinggal di Philadelphia sejak tahun 2006, dikenal sebagai penyelenggara acara, terutama untuk warga Indonesia yang tinggal di daerah Pennsylvania.

Lilian banyak membantu warga Indonesia dalam menyelenggarakan acara yang bermuatan tradisi seperti yang ia jelaskan kepada VOA.

BACA JUGA: Diaspora Jawa di Washington Ikut Prihatin dengan Kondisi Perebakan COVID di Tanah Air

Bacaan Lainnya

“Saya biasanya membantu acara untuk pernikahan dan tunangan. Pernikahan tradisi Tionghoa dengan upacara minum teh sebelum hari H pernikahan. Kalau acara mitoni (tujuh bulanan) pernah, tapi jarang. Kalau acara sunatan ngga perlu Kalau acara sunatan ngga perlu karena biasanya di AS begitu bayi lahir lalu disunat di rumah sakit,” ungkapnya.

Galungan dan Kuningan

Sedangkan bagi warga Bali yang tinggal di Amerika, perhimpunan masyarakat Banjar Bali di AS sering mengadakan acara seperti hari raya Galungan dan Kuningan, yang tahun ini jatuh pada tanggal 8 Juni dan 18 Juni.

Ketika VOA menanyakan bagaimana mempersiapkan berbagai sesajian dan hiasan janur ala Bali, salah seorang warga Bali yang tinggal di Virginia, Kadek Djangkuak mengatakan, “Namanya nibung, itu sebenarnya janur dari Sulawesi ya, seperti janur tapi sebenarnya palem. Biasanya kalau pulang ke Bali, saya bawa. Sampai di sini kering jadi saya rendam dengan air hangat. Alternatif lain dengan pita berwarna kuning untuk membuat ketupat dan burung-burung hiasan.”

Mitoni

Sementara itu bagi warga Jawa, tradisi yang cukup penting dan biasanya harus dilaksanakan adalah, upacara tujuh bulanan atau mitoni.

Pakar budaya Jawa dari Yogyakarta, KGRAA Anglingkusumo Mangku Alam menjelaskan, “Yang penting ada tiga unsur dalam upacara itu, pertama siraman, kedua adalah memantaskan diri dengan 7 macam pakaian, yang ketiga angreman atau ayam betina mengerami telurnya. Peralatan lain teropong dan kelapa cengkir yang digambari Dewi Ratih dan Kamajaya. Semuanya itu bermakna baik.”

Diaspora Indonesia yang ingin melaksanakan tradisi mitoni di AS melakukannya dengan apa adanya di sini. Namun seorang diaspora Indonesia yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di Amerika, Yulie Campaldini, awal Mei lalu mengadakan acara mitoni untuk menantunya. Baginya yang masih keturunan Kraton Yogyakarta, tradisi mitoni seharusnya dilaksanakan di manapun ia tinggal.

BACA JUGA: “Little Indonesia” Resmi Berdiri di Kota Somersworth, New Hampshire

Seperti halnya Kadek Djangkuak yang membawa janur dari Bali, Yulie juga sudah mempersiapkan berbagai peralatan yang ia bawa dari Indonesia, seperti gayung dari tempurung kelapa dan untaian bunga melati untuk penutup rambut.

Ditanyai mengenai bunga setaman yang digunakan untik tradisi siraman, ia mengatakan, “Saya hanya memakai bunga mawar, karena tidak ada kenanga, melati di sini, apalagi bunga mawarnya bagus-bagus sekali.”

Yulie mengundang 50 teman yang kebanyakan warga Amerika dan sebagian warga Indonesia yang ternyata malah belum pernah melihat tradisi mitoni.

“Tanggapan mereka positif, sangat surprise karena yang mereka bayangkan seperti baby shower Amerika. Tapi sebelum saya undang, sudah saya jelaskan tentang acara tradisional yang murni ini, karena saya orang Jawa. Mereka sangat antusias, bahkan orang Indonesia sendiri belum pernah mengikuti acara tujuh bulanan atau mitoni ini,” ujarnya.

Sejak tahun 1990, pemerintah Amerika menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Warisan Budaya Asia dan Kepulauan Pasifik. Maka acara-acara yang bersifat tradisi dan budaya dari warga Asia termasuk Indonesia sangat dihargai dan menjadi sarana pengenalan budaya di AS. (VOA)

Pos terkait