Dengan hadirnya Sandra sebagai penerjemah, ia juga bisa menjadi seperti ‘pendamai’ yang menjelaskan kepada tenaga kesehatan.
“Kerokan itu teknik begini-begini aku bisa menjelaskan gitu. Jadi jangan sampai ada kesalahpahaman. Apalagi kalau orang tuanya tidak bisa menjelaskan bahasa Inggris secara benar,” jelas Sandra.
Mengingat bahwa Amerika Serikat adalah tempat pertemuan berbagai budaya, Sandra melihat bahwa para tenaga kesehatan di AS sudah biasa menghadapi berbagai penjelasan terkait kebudayaan dan tradisi yang berbeda. Namun, kembali lagi kepada tugasnya, Sandra harus siap untuk menjelaskan lebih dalam jika diperlukan.
“Kalau misalnya untuk kerokan, memang ada bahasanya khususnya kan namanya coining. Coining itu kan kerokan, atau kalau kita pakai kerokan yang kayak cup itu kan cupping. Itu kan ada, mereka kan tau. Semua southeast Asian kan melakukan praktik itu,” ujar perempuan berdarah Solo dan Austria ini.
Tidak hanya itu, sebagai penerjemah medis bahasa Indonesia, Sandra juga harus bisa menjelaskan mengenai budaya dan tradisi Indonesia, antara lain minum jamu hingga masakan tradisional seperti rendang.
“Kadang-kadang dokternya bingung. ‘Ini minum jamu apa? ‘Oh, jamu daun sirsak.’ Mereka sirsak juga enggak tau apa, jadi aku mesti menjelaskan,” katanya.
“(Pasien) juga harus menjelaskan dietnya. Dia makannya apa sehari-hari. Terus, dia menjelaskan, ‘oh, aku suka makan rendang.’ Nah, itu kan aku mesti (menjelaskan) dong, rendang itu beef stew with coconut milk and spices,” tambahnya.
Layanan Jasa Penerjemah Medis Gratis
Sandra menyadari bahwa keterbatasan bahasa Inggris pasien kerap menimbulkan kebingungan dan salah pengertian. Hal ini tentunya berisiko besar kepada kondisi kesehatan pasien.
“Konsultasi diet untuk sakit gula. (Pasien) ada konsultasi dengan ahli gizi. Kan itu lewat video, ya. Pasien ini ternyata bertahun-tahun minum obatnya salah. Dia itu bacanya salah, mestinya sesudah atau sebelum, dan dia tuh makan obatnya salah. Dan baru tahu saat itu juga waktu aku bantuin dia jadi interpreter,” kata perempuan yang sudah menetap di Amerika Serikat sejak tahun 1995 ini.
Salah satu jalan keluarnya adalah dengan menggunakan layanan jasa penerjemah medis, yang bisa didapat secara cuma-cuma.
“Waktu Lia dulu kerja di rumah sakit, apalagi di divisi behavioral health ada macam-macam ya. Orang datangnya untuk masalah depresi, untuk masalah kecemasan atau masalah ketergantungan obat-obatan. Banyak yang butuh pertolongan, tapi enggak terlalu menguasai bahasa inggris, jadi susah untuk menceritakan apa yang dia alami,” cerita Natalia Indrasari Try Sutrisno kepada VOA Indonesia belum lama ini.
Natalia Indrasari Try Sutrisno yang berprofesi sebagai terapis keluarga dan pernikahan di Iowa, AS mengatakan, jika dihadapkan pada situasi seperti itu, tenaga kesehatan di Amerika Serikat wajib menawarkan bantuan penerjemah medis secara gratis, khususnya jika bahasa Inggris bukan bahasa ibu pasien.
“Kalau mereka bilang bahasa inggris itu bahasa keduanya mereka, kita wajib, sebagai provider, untuk memberikan bantuan dengan menghubungkan mereka dengan jasa medical interpreter,” jelas perempuan yang juga adalah penyuluh penyalahgunaan narkoba ini.
“Kalau misalnya pasiennya PD (percaya diri) aja dengan kemampuan berbahasa inggrisnya mereka ketika mereka dapetin medical service di sini ya gak apa-apa juga sih. Tapi ada risiko dimana kita salah ngerti gitu,” tambahnya.
Data terakhir yang dikeluarkan oleh Migration Policy Institute, lembaga riset yang berupaya meningkatkan kebijakan imigrasi di Amerika Serikat menyatakan 9 persen dari total populasi Amerika atau sekitar 25,2 juta penduduk memiliki keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris. Banyak dari mereka yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, khususnya untuk hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan.
Situs Agency for Healthcare Research and Quality, lembaga riset di bawah Departemen Kesehatan & Layanan Kemanusiaan Amerika mengatakan, masalah dalam berkomunikasi yang dialami oleh pasien dengan kemampuan bahasa Inggris terbatas, seringkali menyebabkan efek samping atau bahkan hal yang serius.
Harcandiana Roebiantho di Washington, D.C. pernah mendapatkan layanan jasa penerjemah medis, yang membantunya saat menjalani wawancara mengenai kondisi kesehatannya dengan instansi pemerintah.
“Saya memakai jasa penerjemah medis pada waktu itu saya sakit dan saya tidak bisa kerja full time sehingga pemerintah menawarkan asuransi untuk meng-cover biaya rumah sakit saya, sehingga pada saat ada interview dari government, saya memerlukan penerjemah supaya saya tidak salah dalam menjawab juga menerangkan istilah-istilah medis pada saat itu,” ujarnya kepada VOA.
Pendidikan Khusus Bagi Penerjemah Medis
Untuk menjadi penerjemah medis di AS, Anda harus menempuh pendidikan khusus hingga memperoleh sertifikat resmi.
“Waktu aku dulu ambil programnya itu memang, pelajarannya kan juga tentang medical terminology, kosakata bahasa medis, hari ini kita belajar tentang kardiologi, besok tentang pediatric, tentang kanker, jadi memang bahasa Inggris-nya, tapi nanti setiap interpreter bikin glossary sendiri, bikin rangkuman sendiri, bahasanya mereka apa gitu, jadi aku punya rangkuman tuh banyak,” jelas Sandra.
Mengingat bahasa Indonesia termasuk ke dalam kategori bahasa eksotis atau tidak umum dipakai di Amerika, seperti halnya bahasa Mandarin, Korea, dan Arab, pada waktu itu Sandra tidak perlu mengikuti ujian lisan.
“Ujiannya itu cuman ujian tertulis, jadi Inggris ke Inggris aja. Cuman pemahaman cara menjadi interpreter itu bagaimana dan kosakata medisnya saja gitu ujiannya,” jelas perempuan lulusan S1 insinyur biomedis universitas Southern California di Los Angeles, California ini.








