KARO | kliksumut.com – Bermula dari sebuah pertemuan dan pertemanan di sebuah warung kopi dikota kecil Berastagi. Kota yang dikenal berhawa dingin dan sejuk ini, adalah juga merupakan pintu gerbang parawisata di Sumatera Utara yang sudah dikenal ke Mancanegara karena memiliki banyak objek wisata unggulan yang dimilikinya, ditambah keramah tamahan masyarakatnya yang masih memegang teguh culture budaya, adat istiadat yang begitu kental, hal ini tentunya membuat kota Berastagi juga kota tempat kelahiranku ini, menjadi primadona mampu menghipnotis wisatawan bertahan lebih lama di jantung kota ini.
Nah.., kenapa profesi wartawan menjadi pilihanku? Awalnya pada pertengahan Tahun 2002 lalu, pertemuanku dengan seorang wartawan senior yang tugas liputannya di Karo, beliau mantan wartawan harian Bukit Barisan, tapi dia juga terlihat mampu berdialog dengan lancar dengan wisatawan asing dibenakku, apakah disamping seorang penulis dia juga seorang pemandu wisata pikirku.
Karena waktu itu di kota Berastagi yang indah nan sejuk ini, para wisatawan asing banyak ditemui seperti di hotel berbintang dan kelas melati, warung kopi dan juga yang berlalu lalang tergantung shecudle perjalanan mereka. Hiruk pikuk nuansa kota ini semakin terlihat hidup dan meriah, di kesempatan itulah setiap pertemuanku dengannya aku selalu membawa sebuah pena dan notes di saku ku, berharap bisa belajar dan mencatat setiap perbincangan mereka dengan terjemahan Indonesia-Inggris.
Begitulah hari hari seterusnya setiap waktu aku melirik beliau di Coffe Shop berharap dapat bertemu dan belajar conversation dan menulis, darinya.
BACA JUGA: Sebelum Aktifitas, Personil Polres Karo di Sweb Antigen
Akhirnya pada malam itu aku melihat beliau bersama orang asing sedang asik bercerita sambil minum Bintang, dengan percaya diri aku beranjak masuk dan percaya diri duduk diantara mereka. Dikatakanya kepadaku “Ada peluang pekerjaan kepadamu, satu menjadi seorang penulis dan satu lagi menjadi seorang pemandu wisatawan atau Guide, kalau kau mau jadi seorang penulis yah… disana banyak akan kau temukan pergaulan atau teman teman dari berbagai kalangan, juga kau akan mendapat banyak tantangan, tapi yah menjadi penulis juga enak sih katanya, namun kalau kau mau jadi pemandu mengantar tamu kau juga akan mendapat pengalaman atau mungkin diberi uang dari upah kamu yang mengantar mereka ke tepat tujuan wisata yang mereka inginkan… nanti kupandu,” pungkasnya!.
Ah.., pilihan sulit bagiku yang saat itu masih bingung, tapi singkatnya, kuambil satu keputusan dan memilih agar bisa belajar menjadi penulis dan berharap bisa nantinya menjadi seorang wartawan, di mulai dari belajar Basic Manner atau etika awal, aku terus bergelut terkadang bersama para wisatawan di menjelajahi objek wisata yang ada di kota ini.
Selanjutnya begitulah dari hari ke hari bersama beliau sang wartawan gaek tersebut, disetiap waktu aku tidak lupa membeli sebuah pena dan notes, aku dibekali 5W+1 H yaitu What,Why,When,Where,Who serta How kata inilah pertama yang aku kenal saat belajar menjadi seorang penulis. Sejak itu aku dilibatkan bergabung turun ke lapangan dengan teman teman senior dari berbagai media cetak terbitan Medan, aku mewakili majalah di sebuah majalah bulanan, dari sanalah aku mulai belajar mencari sebuah berita untuk laporan dan diterbitkan di majalah itu, disana aku mulai diterjunkan belajar wawancara, etika dan wawasan.
Seiring berjalannya waktu aku terus menjajakan kaki dari menulis di majalah bulanan hingga membuat lamaran ke satu media cetak terbitan Medan Harian Mediator, disana pun aku terus belajar dan selalu berkordinasi dengan abang senioran tentang tahap pemberitaan, tidak jarang Redaktur daerah sering menelpon terkait berita yang aku kirim saat itu masih menggunakan mesin tik dan dikirim melalui faksmile, banyak kesalahan atau kata yang dirangkai amburadul.
BACA JUGA: Bupati Karo Tingkatkan Imunitas, Masyarakat Jangan Takut Divaksin
Beberapa tahun di Harian Mediator sebagai wartawan daerah dan berpindah lagi ke harian Global juga terbitan Medan, dari pengalaman di semua media yang dijalani, aku teringat kata senior yang pertama memperkenalkanku di dunia jurnalis.Begitu banyak liku liku dan tantangan, dari mulai mencari langganan menjajakan koran dan membuat berita yang ditugaskan oleh Redaktur daerah ternyata benar kata beliau, menjadi wartawan harus siap segalanya. Tapi di hatiku pilihan itu sudah sejak awal aku pilih dan jalan terus walaupun selalu belajar dan belajar.
Dan waktupun terus berlalu, setelah di Harian Global Medan selama empat tahun aku terpaksa berpindah lagi ke harian Jurnal asia, disana akupun belajar menulis lagi hingga akhirnya sampai saat ini, di jaman era digitalisasi aku dipertemukan dan berlabuh di media Online kliksumut.com yang berkantor di Medan.








