KLIKSUMUT.COM – Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya. Pada Selasa (22/7/2025), logam mulia ini melesat hingga 1,05% ke level US$ 3.431,12 per troy ons, menjadi harga tertinggi dalam lima minggu terakhir. Kenaikan ini menjadi penguatan dua hari beruntun di tengah meningkatnya kekhawatiran perdagangan global, penurunan imbal hasil obligasi, serta pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS).
Ini merupakan kali pertama sejak 13 Juni 2025 harga emas menembus kembali level psikologis US$ 3.400, menunjukkan sentimen pasar yang semakin mengarah pada aset lindung nilai.
BACA JUGA: Harga Emas Antam Stagnan di Rp1,927 Juta per Gram, Emas Dunia Melemah Tipis
Namun pada awal perdagangan Rabu pagi (23/7/2025) pukul 06.47 WIB, harga emas di pasar spot tercatat turun tipis 0,10%, menurut laporan Kitco Metals yang dikutip Reuters. Koreksi kecil ini dinilai sebagai konsolidasi wajar setelah lonjakan signifikan dua hari sebelumnya.
Faktor Pendorong Kenaikan Emas
Beberapa faktor utama mendasari lonjakan harga emas:
Ketidakpastian Perdagangan Global: Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan rencana pertemuan dengan mitranya dari China minggu depan. Pertemuan ini disebut-sebut akan membahas kemungkinan perpanjangan batas waktu tarif yang akan berakhir pada 12 Agustus. Bessent juga mengisyaratkan akan ada “serangkaian kesepakatan perdagangan” dengan negara lain dalam waktu dekat.
Respons Uni Eropa: Sinyal dari diplomat Uni Eropa menunjukkan bahwa blok tersebut tengah mempertimbangkan langkah balasan terhadap AS, seiring makin tipisnya prospek perjanjian dagang lintas kawasan.
Pelemahan Dolar AS dan Yield Obligasi: Indeks dolar AS yang melemah dan penurunan imbal hasil obligasi mendorong minat terhadap emas sebagai aset safe haven.
Analis Komoditas Senior Reliance Securities, Jigar Trivedi, menyatakan bahwa tren harga emas kemungkinan besar akan tetap bullish. “Resistensi kuat berada di kisaran US$ 3.420, sementara support berada di level US$ 3.350,” ujarnya.
Menanti Langkah The Fed
Investor global kini menanti hasil pertemuan Federal Reserve pekan depan. Meski The Fed diprediksi tidak akan mengubah suku bunga pada pertemuan tersebut, pasar mengantisipasi pemangkasan suku bunga pada Oktober 2025, seiring meningkatnya tekanan dari berbagai pihak.
Suku bunga yang lebih rendah cenderung membuat emas lebih menarik, karena mengurangi opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Menambah dinamika kebijakan moneter, Bessent juga menanggapi isu pemimpin bank sentral dengan menyatakan bahwa Ketua The Fed Jerome Powell tidak perlu segera mundur, sehari setelah muncul seruan untuk mengevaluasi ulang independensi bank sentral.
Pernyataan itu dikonfirmasi oleh Wakil Ketua The Fed, Michelle Bowman, yang menegaskan pentingnya menjaga independensi The Fed di tengah tekanan dari mantan Presiden Donald Trump, yang mendesak penurunan suku bunga demi mendorong pertumbuhan ekonomi menjelang pemilu.
BACA JUGA: Harga Emas Dunia Menguat Tipis: Ketidakpastian Global dan Pelemahan Dolar Jadi Pendorong
Outlook Emas: Masih Jadi Primadona?
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, emas terus menjadi primadona bagi investor. Kombinasi ketegangan geopolitik, potensi perubahan kebijakan moneter, serta pelemahan dolar AS akan tetap menjadi pendorong utama harga emas dalam waktu dekat.
Dengan tren saat ini, para analis memperkirakan bahwa selama faktor-faktor risiko makroekonomi masih tinggi, harga emas berpotensi menembus level resistensi baru dalam beberapa minggu ke depan. (KSC)








