Ekonomi Digital Indonesia Kuasai 40 Persen ASEAN, Wamen Komdigi Dorong Ekosistem Teknologi Menuju Kemandirian 2045

Ekonomi Digital Indonesia Kuasai 40 Persen ASEAN, Wamen Komdigi Dorong Ekosistem Teknologi Menuju Kemandirian 2045
Wamenkomdigi Nezar Patria memberikan keynote speech penutup dalam acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Tribrata Darmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (23/06/2026). (foto/ist)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara dengan kontribusi mencapai sekitar 40 persen dari total ekonomi digital ASEAN. Potensi tersebut diperkirakan terus meningkat dengan nilai ekonomi digital Indonesia yang dapat mencapai hingga USD360 miliar dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, besarnya pasar digital nasional tidak otomatis menjadikan Indonesia sebagai kekuatan teknologi global. Pemerintah menilai diperlukan penguatan ekosistem digital secara menyeluruh agar Indonesia mampu menciptakan inovasi dan nilai tambah sendiri.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menyampaikan hal tersebut dalam acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026).

Menurut Nezar, masa depan ekonomi digital Indonesia sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem yang saling terhubung, mulai dari infrastruktur digital, sumber daya manusia, industri, hingga inovasi teknologi.

“Kita sudah mengeksplorasi delapan prioritas untuk pembangunan ekosistem digital di Indonesia dengan spektrum yang cukup luas dan rentang yang beragam, mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi sampai dengan peningkatan efisiensi biaya logistik nasional,” ujar Nezar Patria.

Bacaan Lainnya

Wamen Komdigi menegaskan pembangunan ekosistem digital nasional merupakan bagian penting dari strategi menuju Indonesia Digital 2045.

Menurutnya, langkah yang dilakukan saat ini akan menentukan kemampuan Indonesia dalam mencapai kemandirian teknologi pada masa depan.

“Tahap yang kita lalui sekarang akan menentukan apakah pada 2045 kita bisa mencapai tujuan strategis nasional kita untuk kemandirian teknologi. Penguatan kolaborasi adalah kata kunci yang paling penting yang harus sama-sama kita internalisasi dan bagaimana kita eksekusi,” tegasnya.

Nezar menyebut Indonesia membutuhkan kerja sama lintas sektor agar transformasi digital tidak hanya menciptakan pasar, tetapi juga melahirkan industri teknologi yang kompetitif.

Dalam memperkuat ekonomi digital, Indonesia perlu mengambil pelajaran dari negara yang berhasil membangun fondasi teknologi nasional.

Salah satu contoh yang dinilai relevan adalah India yang memperkuat infrastruktur publik digital melalui sistem identitas dan pembayaran digital.

“Dengan India mungkin kita bisa belajar banyak bagaimana mereka mulai membangun ekosistem digital ini sepuluh tahun yang lalu, pada 2015. Apa yang mereka perkuat? Mereka memperkuat infrastruktur publik digitalnya,” jelas Nezar.

BACA JUGA: Kondisi Listrik Jawa Mulai Pulih, PLN Tekan Pemadaman Bergilir dan Perkuat Sistem Kelistrikan

India diketahui mengembangkan sistem Unified Payment Interface (UPI) dan Aadhaar yang menjadi fondasi berkembangnya layanan keuangan digital.

Menurut Nezar, infrastruktur publik digital yang inklusif dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan digital sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

“Kita tahu India mencoba membangun satu sistem yang inklusif dengan membuat Unified Payment Interface atau UPI dan sistem Aadhaar. Dan itu bisa menjadi driver untuk financial services yang ada di India dan kemudian menjadi backbone untuk tumbuhnya ekosistem ekonomi digital yang ada di India,” katanya.

Selain membangun fondasi dalam negeri, Indonesia juga perlu meningkatkan posisi dalam rantai pasok teknologi global, terutama pada bidang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Nezar menilai penguasaan teknologi strategis menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menghasilkan inovasi yang bersaing secara global.

“Kita lihat bagaimana setelah kekuatan ekosistem ini dibangun, perlu juga diperhatikan bagaimana dengan kekuatan nasional yang kita miliki kita bisa menembus rantai pasar global,” ujarnya.

Ia menambahkan, teknologi baru seperti AI akan menjadi salah satu faktor utama dalam persaingan ekonomi digital dunia.

“Khususnya adopsi teknologi-teknologi yang advanced atau emerging technology, seperti misalnya artificial intelligence,” tambahnya.

Pemerintah mencatat ekonomi digital Indonesia memiliki peluang pertumbuhan yang sangat besar. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar USD105 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat hingga USD260 miliar–USD360 miliar pada masa mendatang.

Indonesia juga menjadi negara dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi digital ASEAN.

“Kontribusi Indonesia untuk ASEAN sekitar 40 persen. Kalau kawasan ASEAN bertumbuh 1 triliun USD, kita menyumbang 365 miliar USD,” ungkap Nezar.

Menurutnya, besarnya peluang tersebut harus diiringi kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.

BACA JUGA: ASBF Regional Sumut Gandeng UPMI dan Potensi Utama di ProPak Asia Bangkok 2026

“Kontribusi itu sangat ditentukan oleh kolaborasi yang kita buat di dalam ekosistem digital ini,” jelasnya.

Melalui DEAL 2026, pemerintah berharap tercipta kerja sama strategis yang mampu memperkuat daya saing nasional, mempercepat pertumbuhan ekonomi digital, serta mendorong Indonesia menjadi negara yang mandiri dalam penguasaan teknologi.

“Indonesia tidak kekurangan talenta. Indonesia tidak kekurangan ide. Indonesia tidak kekurangan semangat. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk bergerak bersama,” pungkas Wamen Nezar Patria. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait