KLIKSUMUT.COM | ACEH TAMIANG ~ Penyandang tunadaksa Mariono (43), akrab disapa Nono, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk mandiri. Berkat pelatihan dan dukungan dari bengkel difabel binaan Pertamina EP Rantau Field, Nono berhasil mengubah hidupnya dari bergantung pada keluarga menjadi mekanik yang menopang ekonomi rumah tangga.
Sebelum mengenal dunia mekanik, Nono tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia mengandalkan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, pelatihan mekanik yang diberikan perusahaan membuka jalan baru baginya. Nono kini mampu mengelola bengkel, memperoleh penghasilan, dan membangun kemandirian ekonomi. Dari usaha inilah ia berani melangkah lebih jauh, termasuk memutuskan menikah karena sudah memiliki sumber penghidupan.
“Bengkel ini pemberi kehidupan bagi saya dan keluarga. Semenjak dapat pelatihan dan diberdayakan jadi mekanik, ekonomi saya jadi lebih baik,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Bangkit dari Bencana
Perjalanan bisnis Nono tidak selalu mulus. Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025 menghancurkan bengkel, merusak peralatan, dan menghentikan penghasilannya. Kondisi ini sempat membuat Nono kembali ke titik nol. Meski demikian, semangatnya untuk bangkit tidak pernah padam. Setiap hari ia membersihkan bengkel dari lumpur, berharap roda usaha kembali berputar.
Respon cepat datang dari Pertamina EP Rantau Field bersama Pertamina Lubricants. Mereka memulihkan usaha Nono, membuka kembali bengkel, mengganti peralatan yang rusak, dan menyelenggarakan program ganti oli gratis “Yuk Berbagi” untuk ratusan pemilik sepeda motor terdampak banjir. Sebanyak 282 botol oli dibagikan, melibatkan tujuh mekanik difabel binaan perusahaan. Langkah ini tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga memastikan bengkel difabel kembali produktif.
BACA JUGA: ATENSI Kemensos, Motor Roda Tiga Ubah Nasib Muhammad Sapi’i di Deli Serdang
Simbol Kemandirian dan Pemberdayaan
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1 Sumatra, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa program bengkel difabel lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka difabel di Aceh Tamiang. Perusahaan berkomitmen memberikan manfaat nyata melalui pelatihan, pemberdayaan, dan dukungan pascabencana.
Head CSR Pertamina Lubricant, Asep Saputra, menambahkan bahwa pembagian oli gratis menjadi simbol kepedulian perusahaan terhadap masyarakat agar kendaraan mereka kembali nyaman digunakan.
Kini, bengkel difabel tidak sekadar tempat servis motor. Ia menjadi pusat pemberdayaan, simbol kemandirian, dan bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkontribusi dalam roda ekonomi. Bagi Nono, bengkel ini adalah kehidupan baru, sebuah usaha yang lahir dari semangat, diuji oleh bencana, dan bangkit kembali berkat kolaborasi antara masyarakat dan perusahaan. (KSC)
REPORTER: Dody Ariandi








