Bedah Buku Reset Indonesia di Medan, Dhandy dan Benaya Kupas Ketidakadilan Sosial

Bedah Buku Reset Indonesia di Medan, Dhandy dan Benaya Kupas Ketidakadilan Sosial
BEDAH BUKU RESET INDONESIA: Dhandy Dwi Laksono memaparkan isi buku Reset Indonesia dalam diskusi publik di Medan yang mengangkat isu ketidakadilan sosial, demokrasi, dan kerusakan lingkungan. (FOTO: Indata Komunika Cemerlang)

KLIKSUMUT.COM | MEDAN ~ Jurnalis investigatif sekaligus penulis Dhandy Dwi Laksono bersama Benaya Harobu membedah buku Reset Indonesia di Serayu Cafe and Space, Jl. Sei Serayu, Medan, Kamis (5/2/2026). Kegiatan ini membuka ruang diskusi publik untuk membahas isu ketidakadilan sosial, kegagalan demokrasi, serta keberpihakan terhadap kelompok rentan yang menjadi fokus utama buku tersebut.

Diskusi yang berlangsung terbuka ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga aktivis. Peserta aktif mengulas peran media, keberanian bersuara, dan tantangan menyampaikan kebenaran di tengah tekanan kekuasaan.

Kegelisahan Sosial dan Demokrasi yang Terganggu

Dalam paparannya, Dhandy Dwi Laksono menjelaskan bahwa Reset Indonesia lahir dari kegelisahan atas persoalan-persoalan struktural yang kerap luput dari perhatian publik. Ia menuturkan bahwa buku tersebut tidak hanya mendokumentasikan fakta, tetapi juga mendorong pembaca untuk berpikir kritis terhadap realitas sosial dan politik di sekitarnya.

BACA JUGA: Bedah Buku “Menguji Reset Indonesia”, Indata Komunika Cemerlang Hadirkan Dandhy Laksono di Serayu Café

“Buku ini mencoba merekam suara-suara yang sering dibungkam dan mengajak pembaca untuk tidak sekadar menjadi penonton,” ujar Dhandy.

Ia menambahkan, Reset Indonesia juga berfungsi sebagai referensi dan pencerahan, terutama bagi generasi muda agar berani bersikap kritis dan peduli terhadap isu keadilan sosial.

“Melalui bedah buku ini, saya berharap masyarakat semakin berani bersikap kritis dan peduli terhadap isu keadilan sosial,” katanya.

Literasi Kritis sebagai Kunci Partisipasi Publik

Senada dengan Dhandy, Benaya Harobu memaparkan bahwa ia bersama tim melakukan penulisan buku melalui riset panjang dengan pendekatan naratif. Pendekatan ini bertujuan agar isu-isu berat dapat dipahami secara lebih luas oleh masyarakat.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: HUT ke-12 Bawaslu Sumut Peringati Secara Sederhana, Momentum Refleksi Demokrasi yang Bermartabat

Literasi kritis menjadi kunci untuk memperkuat partisipasi publik dalam demokrasi,” ucap Benaya.

Ia menilai bahwa tanpa literasi yang kuat, masyarakat akan kesulitan memahami persoalan mendasar yang memengaruhi kehidupan sosial dan politik.

Isu Lingkungan dan Peran Masyarakat

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, mengangkat isu kerusakan lingkungan yang terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Utara, khususnya di Mandailing Natal (Madina). Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Tanpa keterlibatan masyarakat, kerusakan lingkungan tidak dapat kita hindari. Ekolagi hutan akan terus terancam, alih fungsi lahan terus terjadi dan masyarakat hanya akan menjadi korban bencana alam,” paparnya.

BACA JUGA: TPL Dibidik Usai Banjir Bandang Sumatera: WALHI dan Masyarakat Adat Tuding Kerusakan Ekologis, Perusahaan Bantah Keras

Sementara itu, Direktur Utama Indata Komunika Cemerlang selaku penyelenggara kegiatan, Fika Rahma, menyampaikan bahwa diskusi bedah buku berlangsung interaktif dengan beragam pertanyaan kritis dari peserta.

“Sejumlah pertanyaan mengemuka terkait peran media, keberanian bersuara, serta tantangan dalam menyampaikan kebenaran di tengah tekanan kekuasaan,” sebut Fika.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong lahirnya ruang-ruang diskusi serupa di berbagai daerah.

Dalam kegiatan ini, panitia juga merangkai bedah buku dengan pameran foto bencana alam dan diskusi publik bersama GJI. Diskusi publik menghadirkan fotografer Voice of Forest Prayugo Utama, jurnalis Fahriza Batubara, Kepala Stasiun Klimatologi Sumatera Utara Wahyu, serta Direktur GJI Panut Hadisiswoyo.

“Terima kasih buat Green Justice Indonesia atas dukungannya, hingga acara dapat terselenggara dengan baik,” tutup Fika. (KSC)

Pos terkait