MEDAN | kliksumut.com – Ekspor sejumlah komoditi asal Sumatera Utara mengalami penurunan. Nilai ekspor tergerus karena berkurangnya permintaan serta naiknya biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku dan energi.
Ironisnya penurunan nilai ekspor ini terjadi di tengah permintaan domestik yang juga menurun.
“Hasil liaison yang kita lakukan, kinerja ekspor diprakirakan sedikit tertahan sejalan dengan termoderasinya harga komoditas utama dan kecenderungan turunnya permintaan akibat resesi di negara tujuan ekspor,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumateran Utara (Sumut) Doddy Zulverdi, Kamis (26/1/2023).
Meski begitu, sambungnya, sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional, kinerja ekonomi Sumut tetap tumbuh. Beberapa indikator ekonomi pendukungnya seperti peningkatan Indeks Penjualan Riil yang mengindikasikan tetap kuatnya aktivitas perdagangan dan dunia usaha.
BACA JUGA: Ekspor Karet Sumut Naik 30 Persen
Selain itu, mobilitas juga tetap tinggi yang tercermin dari perkembangan penumpang angkutan udara yang terus meningkat.
“Survei kegiatan dunia usaha juga menunjukkan peningkatan, terutama pada beberapa LU utama seperti Industri Pengolahan, Perdagangan dan Transportasi,” tuturnya.
INFLASI
Dalam kesempatan ini, Doddy menjelaskan secara tahunan, inflasi gabungan Sumut pada Desember 2022 mencapai 6,12% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Nasional (5,51%, yoy) & sedikit lebih rendah dibandingkan Sumatera (6,14%, yoy).
Kondisi ini, tuturnya, didorong oleh peningkatan harga bahan pangan. Antara lain tomat, cabai merah, ikan dencis, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
BACA JUGA: Kemendag Melarang Sementara Ekspor Bahan Baku dan Produk Minyak Goreng
Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) gabungan 5 kota di Sumatera Utara pada Desember 2022 mengalami inflasi sebesar 1,50% (mtm), berbalik arah dibandingkan dengan Oktober 2022 dan November 2022 yang mencatatkan deflasi masing-masing sebesar -0,51% (mtm) dan -0,13% (mtm).
Selain itu, seluruh kota IHK di Sumut mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi sebesar 1,79% (mtm) terjadi di Kota Gunung Sitoli.
Doddy menjelaskan dibandingkan bulan sebelumnya, tingkat inflasi gabungan Sumut per Desember 2022 mencapai 6,12% (yoy). Meningkat signifikan dari November 2022 yang mencapai 5,03% (yoy).
Berdasarkan komponennya, inflasi Desember 2022 terutama disumbangkan oleh kelompok Volatile Food (VF) yang mencatatkan andil inflasi sebesar 1,29% (mtm).
Adapun kelompok Core Inflation (CI) dan Administered Prices (AP) juga mencatatkan andil inflasi sebesar 0,14% (mtm) dan 0,07% (mtm).
[AS]







