Amuk Massa di Kantor Wali Kota Binjai: Pagar Kekuasaan Tumbang di Tangan Rakyat

Amuk Massa di Kantor Wali Kota Binjai: Pagar Kekuasaan Tumbang di Tangan Rakyat
Luluh lantak. Pagar Kantor Wali Kota Binjai roboh dihantam massa pedagang yang menolak penggusuran paksa tanpa relokasi yang jelas. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM | BINJAI – Udara di Jalan Jendral Sudirman No. 6 mendadak pekat dari aroma kemarahan. Senin (27/4/2026), halaman Kantor Wali Kota Binjai yang biasanya tertib, berubah menjadi palagan perlawanan. Ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) tumpah ruah ke jalan, membawa bentangan spanduk yang bukan sekedar kain, melainkan manifesto keputusasaan atas ruang ekonomi yang terancam dirampas.

Ketegangan mencapai titik didih saat kabar berhembus: Wali Kota Binjai, Amir Hamzah, diduga tidak berada di tempat karena urusan dinas luar daerah. Bagi massa yang datang dengan sisa-sisa harapan untuk berdialog, ketidakhadiran pemimpin adalah penghinaan.

BACA JUGA: Desakan Robohkan Neo Cafe Menguat, Aksi Massa Kepung Kantor Wali Kota Binjai Dijadwalkan Senin

Emosi yang semula terbendung, pecah menjadi aksi saling dorong dengan barikade aparat. Puncaknya, dalam satu gelombang amuk yang padu, pagar besi kantor wali kota didobrak hingga ambruk menyentuh tanah. Suara dentumannya menjadi tanda runtuhnya sekat antara rakyat dan penguasa.

“Kami siap diatur, kami siap ditata, tapi jangan gusur kami tanpa arah! Kami hanya ingin tetap mencari nafkah!,” Orator Aksi Edward Gurki.

Meski kepungan personel TNI-Polri dan Satpol PP kian rapat, nyali pedagang tak kunjung ciut. Mereka memilih bertahan, duduk bersila di atas aspal halaman kantor, menantang terik dan ketidakpastian. Spanduk-spanduk kecaman yang berkibar di antara kerumunan menjadi simbol bisu perlawanan rakyat kecil yang merasa dipojokkan ke dinding kemiskinan.

BACA JUGA: Penggeledahan Kasus Dugaan Korupsi Tol Medan–Binjai, Kejati Sumut Sasar Kantor BPN dan Pertanahan Kota Medan

Tragedi di Binjai adalah cermin retak kebijakan tata kota di berbagai daerah. Penggusuran tanpa solusi kerap kali menjadi “bom waktu” yang menanam benih keresahan di akar rumput.

Robohnya pagar kantor wali kota hari ini bukan sekedar kerusakan fisik, melainkan sebuah metafora kelam: betapa rapuhnya kepercayaan publik ketika pemerintah lebih memilih abai daripada memberi solusi. Di Binjai, hukum tabur tuai itu nyata, siapa yang menabur pengabaian, akan menuai badai perlawanan. (KSC)

Pos terkait