KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Pemanfaatan sport science menjadi faktor krusial dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga Sumatera Utara (Sumut), khususnya dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Pendekatan ilmiah ini dinilai mampu mendongkrak performa atlet secara terukur dan berkelanjutan.
Hal tersebut ditegaskan Prof Dr Ardi Nusri MKes saat menjadi pemateri dalam Workshop Jurnalistik Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Sumut Tahun 2025 yang digelar di Travelbiz Hotel, Medan, Kamis (18/12/2025.
Dalam pemaparannya, Prof Ardi menjelaskan bahwa sport science merupakan pendekatan terintegrasi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Mulai dari fisiologi, nutrisi, biokimia, biomekanik, endokrinologi, psikologi olahraga, analisis data, hingga kedokteran olahraga, yang bertujuan meningkatkan performa atlet sekaligus meminimalisir risiko cedera.
Sebagai pembuka materi, Prof Ardi melakukan simulasi sederhana dengan mengukur denyut nadi wartawan peserta workshop dalam kondisi duduk. Hasilnya, beberapa peserta memiliki denyut nadi di atas 20 hitungan dalam 15 detik, yang menandakan tingkat kebugaran belum optimal.
“Pengukuran paling efektif dilakukan saat bangun pagi, dengan catatan tidur cukup dan nyenyak. Jika denyut nadi di bawah 20 per 15 detik, itu menandakan kondisi jantung dan kebugaran yang baik,” ujar mantan pelatih fisik PSMS Medan yang juga Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed).
Lebih lanjut, Prof Ardi mengungkapkan berbagai penelitian menunjukkan bahwa atlet yang menerapkan sport science secara konsisten dapat mengalami peningkatan performa hingga 20 persen. Dampaknya tidak hanya pada kekuatan dan daya tahan fisik, tetapi juga kesehatan mental, proses pemulihan, hingga pencegahan cedera.
Ia mencontohkan keberhasilan Sumut di PON 2024 yang tidak lepas dari penerapan sport science, selain faktor tuan rumah, dukungan anggaran, persiapan matang, serta kemampuan adaptasi atlet.
Menatap PON 2028, Prof Ardi menilai penerapan sport science di Sumut masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan daerah lain, khususnya Jawa Barat yang unggul dari sisi akademisi dan dukungan anggaran.
BACA JUGA: Hadapi Gempuran AI dan Media Sosial, Wartawan Olahraga Dituntut Adaptif dan Beretika
“Untuk PON 2028, Sumut harus lebih serius. Misalnya dengan mendatangkan psikolog olahraga, yang tentu didukung analisis dari disiplin ilmu lain seperti fisiologi dan nutrisi,” pungkasnya.
Dengan penerapan sport science yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, Sumut diharapkan mampu menjaga tren prestasi dan tampil lebih kompetitif di ajang olahraga nasional mendatang. (KSC)
EDITOR: Bambang Nazaruddin Lubis








