Rupiah Akhirnya Menguat Tipis ke Rp16.437 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

Rupiah Akhirnya Menguat Tipis ke Rp16.437 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini akhirnya mengalami penguatan. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Setelah mengalami tekanan selama beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (17/9), rupiah ditutup menguat tipis ke level Rp16.437 per dolar Amerika Serikat (USD), naik 3 poin atau setara 0,02% dari penutupan sebelumnya di Rp16.440 per USD.

Penguatan ini menandai pergerakan positif pertama setelah tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir. Menurut analis pasar uang Ibrahim Assuaibi, rupiah sempat menyentuh level penguatan 35 poin di sesi perdagangan siang sebelum akhirnya ditutup di zona hijau meski tipis.

“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup menguat tiga poin. Sebelumnya sempat menguat 35 poin di level Rp16.437 dari penutupan sebelumnya di Rp16.440,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.

BACA JUGA: Pengendara Pilih SPBU Swasta karena Kualitas BBM Lebih Baik, tapi Kini Stok Langka

Namun, data dari Yahoo Finance memberikan gambaran berbeda. Versi mereka menunjukkan rupiah justru melemah ke level Rp16.425 per USD, turun 45 poin atau 0,27% dari posisi sebelumnya di Rp16.380.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs referensi Bank Indonesia menempatkan rupiah di level Rp16.430 per USD, melemah 45 poin dibanding hari sebelumnya di Rp16.385.

Pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari sentimen global, khususnya menanti keputusan penting dari The Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi pasar mengarah pada kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat kebijakan moneter Rabu ini waktu AS.

“Beberapa pelaku pasar bahkan berharap penurunan lebih agresif hingga 50 basis poin,” kata Ibrahim.

Fokus investor kini tertuju pada proyeksi ekonomi terbaru The Fed dan dot plot yang akan dirilis bersamaan. Tak kalah penting, pernyataan dari Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers pasca rapat akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.

Namun demikian, pasar masih diliputi ketidakpastian. Hal ini disebabkan oleh inflasi AS yang masih stagnan, serta kekhawatiran Powell terhadap efek tarif perdagangan yang lebih tinggi, yang bisa menghambat pelonggaran kebijakan suku bunga lebih lanjut.

BACA JUGA: Bank Indonesia Sibolga Gelar HLM TPID se-Kepulauan Nias: Bahas Inflasi dan Ketahanan Pangan untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Meskipun hari ini rupiah berhasil menguat tipis, kondisi pasar masih tergolong volatile. Keputusan The Fed malam ini serta arah kebijakan moneter ke depan akan menjadi kunci penentu pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

Para pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap sentimen eksternal, termasuk perkembangan data inflasi, pasar tenaga kerja AS, dan tensi geopolitik global yang dapat memengaruhi arah kebijakan bank sentral dunia. (KSC)

Pos terkait