MEDAN | kliksumut.com – Menyikapi adanya kasus vidio viral seorang pasien meninggal di Rumah Sakit (RS) Pirngadi Medan akibat tabung oksigen yang diberikan diduga tidak berisi alias kosong. Dalam kasus ini pihak RS Harus bertanggungjawab secara Perdata dan Pidana.
Eka Putra Zakran SH Praktisi Hukum yang juga Mahasiswa Magister Hukum Kesehatan UNPAB Medan angkat bicara.
“Aneh memang kondisi bangsa kita disaat pemerintah pusat gencar-gencarnya dalam upaya mencegah dan menanggulangi penyebaran wabah Covid-19, disaat itu pula banyak muncul permasalahan, mulai dari temuan pemakaian antigen bekas di bandar Kuala Namu, di Lapangan Merdeka, terus temuan jual beli vaksin secara ilegal dilakukan oleh petugas medis di Lapas Kelas 1 Medan dan terakhir dugaan pasien meninggal akibat diberi tabung oksigen kosong,” ujar Eka Putra Zakran SH di Medan, Sabtu (29/5/2021)
Baca juga: Wuih Mantap.. Kata Iwan Fals, Komisaris Telkom Dijabat Abdee Slank
Ia menambahkan sepertinya jelas bangsa ini lagi sakit parah, krisis kepercayaan dan keteladanan diberbagai tempat. Mereka para pelaku merupakan para petugas medis maupun non medis sejatinya memberi contoh yang baik, bukan justru sebagai pelaku yang berbuat curang. Apalagi dalam konteks pelayanan Rumah Sakit (RS), jika ada pasien meninggal akibat tabung oksigen yang kosong, ini jelas merupakan sebuah bentuk kelalaian yang nyata.
Lebih lanjut ia menuturkan pihak RS Pirngadi harus bertanggung jawab, bukan hanya secara administrasi, juga secara perdata maupun pidana, karena selain menyebabkan orang meninggal, keluarga pasien jelas merasa dirugikan atas buruknya pelayanan yang diberikan RS tersebut.
“Harapannya kedepan jangan pernah terulang lagi kasus-kasus seperti ini, publik akan merasa geram dan kecewa atas buruknya pelayanan yang diberikan oleh pihak RS. Apa yang terjadi dalam kasus tabung gas kosong ini merupakan potret buram pelayanan publik khususnya dalam hal perlindungan kesehatan terhadap pasien, maupun masyarakat secara umum. Selain itu, buruknya pelayanan yang diberikan pihak RS kepada pasien. Makanya kadang masyarakat Indonesia itu lebih suka berobat keluar negeri,” tutupnya. (BNL)








