DELISERDANG | kliksumut.com – Atas terjadinya peristiwa teror yang dilakukan oleh salah seorang yang mengaku suruhan oknum aparat kepolisian, Directur Ponpes AL Faiz Andi Suhendra Siregar dan Pendiri Ponpes AL Faiz Fadli Kaukibi SH, CN menerima kunjungan Ulama dari Kab.Simalungun Drs Sya’ban Rajagukguk pada malam, Senin (17/1/2022) untuk membahas persoalan pengancaman staf dan santri Ponpes Al Faiz dengan clurit dan pelemparan Mesjid Ponpes saat menjelang sholat maghrib pada hari Minggu 16 Januari 2022.
Bahwa menurut penjelasan Pendiri Ponpes Al Faiz Fadli Kaukibi SH, CN mengatakan bahwa gelagat mencurigakan sudah terasa sejak minggu jam 2.00 WIB tengah malam adanya orang tidak dikenal mondar mandir, lalu lalang di depan Ponpes, lalu meminta agar Pengawas Ponpes dan Staf agar lebih waspada, mengingat banyaknya akhir akhir ini adanya penyerangan pada Pendakwah/Pendakwah.
BACA JUGA: Pondok Pesantren Al Faiz di Teror, Pelaku Ditangkap
“Dan pada minggu sore jam 16.00 WIB Staf dan Pengawas Ponpes melihat orang mencurigakan mondar mandir di depan Ponpes lalu orang tersebut memfoto rumah Directur Ponpes Ustadz Andi Suhendra Siregar dan beberapa area ponpes di foto mereka, Dan selanjut mendekati Ponpes dengan mengendap ngendap menyamar jadi tukang rumput dan mendekati arah Rumah Ibadah,” jelas Fadli Kaukibi kepada wartawan, selasa (18/1/2022).
Fadli juga menjelaskan lalu saat mendekati waktu Maghrib dan para santri bersiap siap untuk sholat maghrib itu terjadi pelemparan mesjid dengan batu sebesar kepalan tangan yang memecahkan kaca mesjid.
“Pihak Ponpes menelusuri Hp Pelaku adanya Chat Capture yang menjadi target tercantum foto Ustadz Andi Suhendra, dan sangat mengutuk dan menyesalkan ada oknum Polisi dari Simalungun yang bersama Pelaku turun jauh jauh dari Simalungun ke kawasan ponpes,” sebut Fadli lagi.
Setelah di tanyai Pengawas/staf ponpes jawaban pelaku bahwa asal pelaku dari Tanah Jawa dan Pelaku di perintah polisi dari Simalungun.
“Para santri berteriak dan staf dan pengawas bergegas mengejar dan menyetop pelaku yang mencoba melarikan diri. Pelaku sama sekali tidak membawa identitas KTP, yang selanjutnya akhirnya terjadi pelemparan,” ungkap Fadli.
Tambah Fadli lagi menjelaskan bahwa apa pelemparan mesjid itu adalah dolus (lupa) atau culpa (lalai), atau ada yang menyuruh, mensuges?, mengingat ungkap dirinya bahwa pelaku tidak ber KTP maka apa ini sengaja di persiapkan untuk melakukan perbuatan gila gilaan dengan alibi tugas penyidikan..?.
“Apalagi pakai ada orang yang ngaku ngaku RT di ponpes ini, kami sudah serahkan case ini ke Poldasu maka kita tunggu hasilnya,” tambahnya.
“Dari mana pelaku bawa clurit?, dimana pelaku nge camp beberapa waktu di kawasan ini..? Siapa yang bersama pelaku saat mengendap ngendap di samping mesjid ponpes..mengapa bisa tidak tersentuh hukum..?,” cetusnya
BACA JUGA: Densus 88 Tangkap 24 Orang Terkait Pendanaan Teroris
Pendiri Ponpes yakin bahwa Polisi yang taat SOP (Standar Operasional Prosedur) dan atau KUHAP 500% itu takkan berani memerintahkan pelemparan Mesjid.
“Mengapa pelaku berani mengendap ngendap dan melempar Mesjid? padahal pelaku dari daerah lain dan non muslim pula serta tidak ber KTP, Apa sengaja sudah di persiapkan..?, Namun begitu dirinya yakin ada yang mensugesti pelaku, karena mustahil rasanya jauh jauh dari simalungun berani menyerang melempar tanpa adanya pihak pihak yang mensugest pelaku,” kata Fadli.
Akhirnya silaturrahmi ditutup dengan bertarombo, ternyata adalah ada ikatan , keluarga, kerabat, historis pernah ditempat pendidikan yang sama. Maka indahnya Indonesia jika yang di lihat adalah persamaan maka akan tercipta persatuan, bukan perbedaan dan pengkotak – kotakan yang di tonjolkan hal itulah yang memecah belah bangsa. (Wl)








