Pelanggan PDAM Berastagi di Desa Lau Gumba Tiga Hari Tanpa Air

Pelanggan PDAM Berastagi di Desa Lau Gumba Tiga Hari Tanpa Air
DISTRIBUSI AIR BERSIH MACET: Distribusi air bersih PDAM Cabang Berastagi tiga hari mati total, pengelola Mess Sempurna Desa Lau Gumba nilai Kacab PDAM tidak becus dan minta di copot. (FOTO: Herman Harahap | Jaya Surbakti)

KLIKSUMUT.COM | KARO ~ Pelanggan PDAM Cabang Berastagi di Desa Lau Gumba, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama tiga hari terakhir. Kondisi ini menimbulkan kendala serius bagi aktivitas sehari-hari, termasuk mandi, MCK, dan kebutuhan operasional lainnya.

Situasi ini terasa sangat berat bagi penghuni Mess Sempurna Pemprovsu, yang dikenal juga sebagai Mess Presiden Soekarno, karena sebagian besar penghuninya adalah pegawai Pemerintah Provinsi Sumut.

Pengelola Mess Terpaksa Beli Air Tangki

Staf pengelola Mess Sempurna Pemprovsu, Yudha, menjelaskan kepada wartawan pada Selasa (3/3) bahwa terhentinya distribusi air PDAM mengganggu seluruh aktivitas operasional mess. “Air sudah tiga hari berturut-turut mati, sehingga sangat menyulitkan untuk mandi dan MCK para tamu serta pengelola. Karena air PDAM mati, kami terpaksa beli pakai tangki,” ujar Yudha.

BACA JUGA: Pasokan Air Bersih Bermasalah Sebulan, Polsek Batu Ampar Retap Amankan Distribusi ke Rumah Warga

Mess Sempurna yang berada di wilayah Kabupaten Karo merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Mess ini sering digunakan sebagai tempat menginap tamu pemerintahan maupun lokasi kegiatan resmi. Yudha berharap pihak PDAM segera menanggapi keluhan ini demi meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya pada fasilitas milik pemerintah daerah.

PDAM Berastagi Belum Memberi Tanggapan

Ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait terhentinya distribusi air bersih ke Desa Lau Gumba, Kepala Cabang PDAM Berastagi, Roky Batubara, belum memberikan keterangan. Hingga berita ini diturunkan, pelanggan masih menunggu pasokan air kembali normal. (KSC)

REPORTER: Herman Harahap | Jaya Surbakti

Bacaan Lainnya

Pos terkait