Ada juga kisah ayahnya Ngadimun yang bergabung dengan pasukan Djamin Ginting dan Bejo menderita sakit paru-paru parah karena terlalu lama di hutan saat agresi Belanda I dan II. Itu membuat Supandi dibesarkan oleh kakek dan neneknya yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja kebon.
“Saya kalau menceritakan ini kembali tertahan di sini (sambil menunjukkan lehernya dan menahan air mata), sulit karena cukup sedih. Tetapi, karena penulisnya mengatakan ini tidak hanya bisa menjadi biografi tetapi juga sebuah buku dan menjadi warisan untuk generasi kita, saya semangat,” kata Supandi.
Dia juga mengatakan bangga Provinsi Sumut dipimpin Gubernur Edy Rahmayadi dan berharap tanah kelahirannya bisa lebih maju di tangan mantan Pangkostrad tersebut. “Saya bangga Sumut dipimpin Pak Edy Rahmayadi, tolong majukan kampung halaman saya,” kata Supandi, sambil meneteskan air mata.
BACA JUGA: Tiba di Bandara Kualanamu, Presiden Jokowi Disambut Gubernur Edy Rahmayadi
Menurut keterangan penulis buku Bocah Kebon dari Deli Irawan Santoso buku ini ditulis dengan gaya novel dan bahasa yang ringan sehingga tidak membuat bosan pembacanya walau terdiri dari 438 halaman. Banyak kisah-kisah yang humanis, heroik dan menunjukkan bagaimana kuasa Allah bekerja.
Turut hadir pada acara bedah buku tersebut Rektor Undip Yos Yohan Utama, Mantan Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan dan dosen serta guru-guru Supandi. Hadir juga jajaran Mahkamah Agung dan juga beberapa perwakilan Pengadilan Tinggi se-Indonesia. (wl)








