PERBAUNGAN | kliksumut.com – Lipan atau yang biasa disebut kelabang menjadi salah satu binatang yang ditakuti manusia karena sengatannya yang berbisa. Namun bagi warga Desa Melati II, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinis Sumatera Utara, berburu lipan menjadi mata pencarian kedua. Bahkan dari kawasan itu, lipan kering sudah diekpor ke mancanegara.
Sejak pagi, sepuluh orang pekerja mengolah lipan di rumah keluarga Ricky Santri Kurniawan di Dusun Belimbing, Desa Melati II, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Tempat ini menjadi salah satu tempat pengolahan lipan terbesar di Perbaungan. Saat ramai 10.000 ekor lipan diproses setiap hari untuk siap ekspor ke mancanegara. Namun saat sepi seperti di bulan awal bulan Agustus 2019 ini hanya sekitar 3.000 lipan dapat diolah.
Lipan yang dibeli dari para pemburu kemudian dihitung dan dimatikan, dengan merendamnya di dalam air. Satu malam, lipan disimpan dalam lemari pendingin untuk dapat diproses keesokan harinya.
Proses dimulai dengan pencucian ribuan lipan. Setiap ekor lipan diukur panjangnya untuk dikelompokkan sesuai permintaan pembeli. Ukuran ideal 10 hingga 15 centimeter dan lebar 1 hingga 1,5 centimeter.
Kemudian lipan ditusuk pada bagian kepala dan ekornya dengan potongan pelepah kelapa sawit. Seperti sate, lipan yang telah ditusuk disusun berbaris dalam keranjang pengasapan. di atas tungku berbahan bakar sabut kelapa, sate lipan diasapi sebanyak 12 keranjang hingga kering. Dibutuhkan waktu sekitar empat jam untuk memperoleh lipan kering siap ekspor. Setelah diasapi lipan akan tahan disimpan selama 4 sampai 5 bulan.
Usaha penjualan lipan dilakoni Ricky (21) sebagai bisnis keluarga, sejak empat tahun lalu. Ayahnya Rusmin dan Ibunya Sumarini telah merintis usaha ini sejak tiga puluh tahun yang lalu.
Jika dahulu, tahun 2000 lipan hanya dijual dalam keadaan hidup untuk makanan ikan arwana di kota Medan – Sumatera Utara dan Jakarta. Dulu ada 4 toko ikan, sekarang tinggal satu toko yang membeli 1.000 ekor 2 hari sekali. Ditambah penjualan lipan kering ke tiga toko obat China yang ada di Kota Medan, yaitu di Jalan Gatot Subroto simpang Jalan Nibung Raya, Jalan Cirebon dan di Pajak Beruang di Jalan Madong Lubis. Setiap 6 bulan, 6.000 ekor lipan terjual. Kemudian pada tahun 2015, lipan kering dengan penjemuran panas matahari, lipan sudah dikirim ke dan Surabaya-Jawa Timur.
Kini ditangan Ricky, anak kedua dari 2 bersaudara ini, lipan telah dikeringkan hingga dapat menembus pasar mancanegara. Pada tanggal 3 Agustus 2019 lalu, Ricky mengekspor 100.000 ekor lipan atau 460 kilogram lipan ke Negara Vietnam. Setiap tiga bulan seratus ribu ekor lipan dapat mereka olah. Lipan yang dibeli dari pemburu Rp 1.500 per ekor, dijual ke luar negeri seharga Rp 2.500 – Rp 3.000 per ekor atau sekitar Rp 1.200.000 per kilogram. Keuntungan akan dikurangi biaya cargo pesawat udara internasional Rp 56.000 per Kg sertabiaya PNBP Rp 100.000.
“Kalau ekspor kemarin kita yang didatangi bayer dari luar. Kita ada pasang iklan ke sosmed. Tak lama dia hubungi kita juga, terus datang ke rumah langsung. Dia liat barang kita bilang ini produk terbaik yang pernah saya liat, terus tertarik dan ajak kerja sama. Kendali musim sepi saat panen padi, tapi panen padi habis hampir 80 persen warga desa ini cari lipan semua. Kita beli sama petani 1.500 per ekor. Yang kecil gandeng 2 hitung satu. Kemarin pengiriman seratus ribu ekor sekitar 460 kilogram,” ujar Ricky.
Berburu lipan merupakan mata pencarian kedua masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Perbaungan. Umumnya warga desa berprofesi sebagai petani atau buruh kebun.
Hewan bernama ilmiah Scolopendra, Lipan atau kelabang adalah hewan arthropoda yang tergolong dari kelas Chilopoda dan upafilum Myriapoda. Kelabang adalah hewan metameric yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas tubuhnya. Hewan ini termasuk hewan yang berbisa, dan termasuk hewan nocturnal atau beraktivitas utama pada malam hari.
Setiap hari, warga berburu lipan di semak belukar perladangan, hingga tumpukan daun kering di perkebunan kelapa sawit. Mereka menangkap hewan nocturnal yang beraktivitas pada malam hari ini dengan tangan. Kemudian membuang dua buah taring besar pada mulut kelabang agar tidak tersengat. Meski tak jarang, sengatan lipan mengenai mereka. Kemudian lipan dijual kepada para belasan pengepul yang ada di desa mereka. Para pemburu lipan berasal dari Desa Lestari Dadi, Suka Sari, Bingkat, Jati Mulia dan Desa di Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Deli Serdang.
“Nyariknya di kebun sawit , kebun karet, kadang kadang di lembah lembah lah gitu , tempat tempat lembab. Sebetulnya berbahaya Pak, jadi cemana lagi orang kita kan , memang mata pencariannya dari lipan, ya kalau kita manual aja kita pegang lehernya baru tarok di batang parang lalu dibuang, pernah, tangan bengkak, 3 -4 hari bengkak, dibiarkan aja sembuh. Tidak bisa dipatokkan Pak, ya kadang dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore bisa dapat 20 ekor, 30 ekor, kadang kalau rejeki ada dapat 60 ekor, namanya binatang hidup kan,” jelas Dedi Susanto, pemburu Lipan dari Desa Melati II.
Meski ratusan ribu ekor lipan dapat dikumpulkan warga di kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, warga juga khawatir jumlah lipan di alam dapat semakin sulit ditemukan. Namun hingga saat ini belum ada warga perbaungan yang dapat membudidayakannya, karena sifatnya yang kanibal. “Kalau budi daya pernah sekali tapi tidak berhasil karena lipan itu kanibal,” tambah Ricky.
Penjualan yang masih terbatas pada lipan kering juga menjadi tantangan bagi penjual lipan. Mereka berharap dapat bantuan untuk mengolah lipan menjadi produk yang punya nilai jual lebih mahal. Sehingga member keuntungan yang maksimal.(AGUSS)







