KLIKSUMUT.COM | PAKPAK BHARAT – Kawasan perkantoran Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang berada di Desa Cikaok, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, menjadi sorotan masyarakat. Selain menjamurnya kios-kios semi permanen di sekitar area perkantoran, muncul pula dugaan aksi premanisme yang meresahkan pedagang dan warga setempat.
Pantauan di lokasi pada Minggu (7/6/2026), sejumlah kios dadakan tampak berdiri di sepanjang bahu jalan hingga area yang berbatasan langsung dengan kompleks perkantoran Diklat. Berbagai jenis usaha seperti warung kopi, kios makanan, hingga toko kelontong beroperasi di kawasan tersebut.
Kondisi ini dinilai mengurangi kerapian kawasan pemerintahan yang seharusnya tertata dan representatif. Bahkan, aktivitas jual beli di sekitar kantor disebut-sebut mengganggu akses keluar masuk kendaraan dinas maupun peserta pelatihan, terutama pada jam-jam sibuk.
“Seharusnya kawasan kantor pemerintahan itu bersih dan rapi. Sekarang malah terlihat seperti pasar. Ditambah lagi adanya dugaan aksi premanisme membuat masyarakat semakin tidak nyaman,” ujar salah seorang warga Desa Cikaok.
Situasi semakin memanas setelah terjadi pengerusakan terhadap beberapa kios di sekitar kawasan Diklat pada Sabtu malam (6/6/2026).
Berdasarkan pantauan, sejumlah kios mengalami kerusakan pada bagian dinding dan papan nama. Beberapa barang dagangan juga terlihat berserakan di sekitar lokasi.
Menurut keterangan sejumlah pedagang, aksi pengerusakan tersebut diduga dilakukan oleh oknum yang mengaku sebagai preman. Mereka disebut meminta sejumlah uang lapak kepada para pedagang yang berjualan di kawasan tersebut.
BACA JUGA: Kajati Sumut Ajak Masyarakat Adat Dukung Pembangunan PLTA 45MW di Pakpak Barat
“Mereka datang malam-malam meminta uang lapak. Karena kami tidak sanggup membayar, keesokan harinya kios kami mengalami kerusakan,” ungkap salah seorang pemilik kios yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait pihak yang bertanggung jawab atas dugaan pengerusakan tersebut maupun motif sebenarnya di balik insiden tersebut.
Keberadaan kios-kios yang tidak tertata serta munculnya dugaan aksi intimidasi juga dikeluhkan oleh sejumlah peserta pelatihan yang mengikuti kegiatan di kompleks Diklat Pakpak Bharat.
Mereka menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi mencoreng citra dan wibawa instansi pemerintah sebagai pusat pendidikan dan pelatihan aparatur.
“Kami datang untuk mengikuti pelatihan, tetapi suasana di sekitar kantor kurang kondusif. Harapannya kawasan ini bisa ditata lebih baik agar kegiatan belajar berjalan nyaman,” ujar salah seorang peserta diklat.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat segera mengambil langkah konkret untuk menata ulang kawasan sekitar perkantoran Diklat. Penertiban kios yang berdiri di area yang dinilai tidak sesuai peruntukan serta peningkatan pengawasan keamanan dianggap penting untuk mengembalikan ketertiban kawasan.
Selain itu, warga juga meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan aksi pengerusakan dan praktik pungutan liar yang meresahkan pedagang.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Badan Diklat, Satpol PP Kabupaten Pakpak Bharat, maupun Polres Pakpak Bharat belum memberikan keterangan resmi terkait penertiban kios maupun perkembangan penyelidikan dugaan pengerusakan tersebut.
Masyarakat berharap persoalan ini segera mendapat perhatian serius agar kawasan perkantoran tetap tertib, aman, dan mencerminkan wibawa pemerintahan daerah. (KSC)
REPORTER: Juniker Berutu





