GIIAS 2025 Jadi Momentum Strategis Bangkitkan Industri Otomotif Nasional di Tengah Tekanan Global

GIIAS 2025 Siap Digelar! Puluhan Mobil Baru Bakal Meluncur, dari SUV Listrik hingga Mobil Terbang
Pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 bakal digelar pekan ini mulai 23 Juli hingga 3 Agustus. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM | TANGERANG – Ajang pameran otomotif terbesar di Indonesia, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, resmi dibuka dan langsung mencuri perhatian dunia. Di tengah lesunya daya beli masyarakat dan tekanan global, GIIAS 2025 diyakini menjadi titik balik kebangkitan industri otomotif nasional serta memperkuat posisi Indonesia di peta industri otomotif global.

Acara yang berlangsung di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, ini diresmikan langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya GIIAS sebagai katalis pemulihan industri otomotif nasional yang tengah menghadapi tekanan berat.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi titik balik yang mengembalikan keinginan belanja masyarakat Indonesia untuk membeli kendaraan,” ujar Agus, Kamis (24/7/2025).

BACA JUGA: GIIAS 2025 Siap Digelar! Puluhan Mobil Baru Bakal Meluncur, dari SUV Listrik hingga Mobil Terbang

Indonesia Punya Potensi Pasar Otomotif Besar

Menurut data Vehicles in Use 2024 yang dirilis OICA (Organisasi Internasional Produsen Kendaraan Bermotor), rasio kepemilikan kendaraan di Indonesia hanya 99 unit per 1.000 penduduk. Jauh di bawah Malaysia (490), Thailand (275), dan Singapura (211).

Namun menariknya, Indonesia mencatat penjualan kendaraan domestik tertinggi di ASEAN, menandakan potensi pasar yang sangat besar dalam jangka panjang. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi para pemain otomotif global untuk terus berinvestasi dan memperluas pasar di Indonesia.

GIIAS 2025: Wujud Kepercayaan Global pada Indonesia

GIIAS 2025 diikuti oleh 44 jenama mobil dan 17 merek motor dari berbagai negara. Ditambah dengan partisipasi 120 industri pendukung termasuk UMKM, pameran ini menunjukkan kepercayaan dunia terhadap prospek industri otomotif Indonesia.

“Kehadiran pelaku utama global mencerminkan keyakinan internasional terhadap arah kebijakan otomotif Indonesia,” lanjut Agus.

Agus juga menyebutkan, industri otomotif nasional memiliki efek multiplikasi kuat terhadap perekonomian. Dengan koefisien backward linkage sebesar 0,975 dan forward linkage sebesar 0,835, sektor ini tidak hanya mendorong industri hulu seperti logam, karet, dan elektronik, tetapi juga menopang sektor hilir seperti logistik, perdagangan, dan keuangan.

Daya Beli Melemah, Tapi Optimisme Menguat

Tahun 2024 menjadi tahun berat bagi industri otomotif ASEAN. Volume penjualan kendaraan menurun 5,4 persen, dan Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak paling signifikan dengan penurunan 12,8 persen. Thailand bahkan mencatat penurunan hingga 24,7 persen.

“Sekarang kita memang sedang sulit, tapi masyarakat kita akan kembali belanja kendaraan,” ujar Agus penuh optimisme.

Pemerintah, kata Agus, terus berkomitmen menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan strategis, termasuk menekan angka PHK di sektor industri otomotif.

Ekspor Tetap Tumbuh, Investasi Terus Masuk

Meski penjualan dalam negeri menurun, ekspor kendaraan Indonesia justru mencatat hasil positif. Hampir 500 ribu unit kendaraan utuh (CBU) diekspor ke lebih dari 90 negara sepanjang 2024, termasuk ke pasar negara maju seperti Jepang. Ekspor CKD (Completely Knocked Down) dan komponen otomotif juga mengalami peningkatan.

Selain itu, selama periode 2020–2024, total investasi yang masuk ke sektor otomotif nasional telah mencapai Rp 150 triliun. Angka ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap potensi Indonesia sebagai pusat produksi dan ekspor otomotif.

BAIC dan Toyota Perkuat Komitmen di Indonesia

GIIAS 2025 juga menjadi ajang penting bagi produsen otomotif global untuk menegaskan komitmennya terhadap Indonesia. Salah satunya adalah BAIC International, produsen otomotif asal Tiongkok yang kini memperluas kehadirannya melalui dua entitas lokal: PT Geo Distribusi Indonesia (GDI) sebagai distributor dan GHL International Automotive (GIO) sebagai perakit kendaraan.

“BAIC hadir bukan hanya untuk menjual kendaraan, tetapi juga untuk berinvestasi dalam proses lokalisasi dan perakitan kendaraan di dalam negeri,” ujar Fedy Dwi Parileksono, Head of PR BAIC Indonesia.

Dalam ajang GIIAS, BAIC memperkenalkan strategi tiga lini produknya—ICE (Internal Combustion Engine), hybrid, dan EV (Electric Vehicle)—sebagai wujud adaptasi terhadap kebutuhan konsumen Indonesia.

Di sisi lain, Toyota tampil menonjol dengan menekankan pengembangan kendaraan hibrida dan biodiesel sebagai bagian dari transisi menuju kendaraan ramah lingkungan.

“Kami berupaya menghadirkan teknologi yang relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujar Muhammad Jalu, Sales Eksekutif Toyota.

Penjualan kendaraan hybrid Toyota di Indonesia sendiri menunjukkan tren positif, berkat meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap efisiensi bahan bakar dan isu lingkungan.

BACA JUGA: 160 Mobil 90’s Style Dipamerkan di USU, Wagubsu Musa Rajekshah Apresiasi Club Otomotif Medan Semakin Ramai

GIIAS 2025 Dorong Sinergi Pemerintah dan Swasta

Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi menilai GIIAS 2025 sebagai bentuk nyata sinergi antara pelaku industri, pemerintah, dan mitra internasional dalam memperkuat struktur industri otomotif Indonesia.

“Dalam berbisnis pasti ada pasang surut. Tapi kami yakin industri otomotif Indonesia akan bangkit lebih kuat,” ujar Nangoi.

Dengan melibatkan lebih dari 1,6 juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung, industri otomotif menjadi tulang punggung penting perekonomian nasional yang perlu terus didorong.

Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Otomotif Global

GIIAS 2025 bukan sekadar pameran mobil. Ia menjadi simbol perlawanan industri otomotif nasional terhadap tekanan global, sekaligus bukti bahwa Indonesia memiliki daya tarik kuat sebagai pasar, basis produksi, dan pusat ekspor otomotif masa depan.

Dengan dukungan pemerintah, keterlibatan industri global, dan semangat kolaboratif yang tinggi, Indonesia siap menatap masa depan sebagai pusat otomotif regional yang berdaya saing dan berkelanjutan. (KSC)

Pos terkait