Columbia Asia Hospital Medan Sediakan Layanan Kesehatan Pekerja Guna Tingkatkan Kinerja

Columbia Asia Hospital Medan Sediakan Layanan Kesehatan Pekerja Guna Tingkatkan Kinerja
Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Columbia Asia Hospital Medan, dr. Muhammad Rizqi Nasution, MKK, SpOk mengungkapkan pentingnya menjaga kondisi metabolik pekerja dengan keselamatan dan produktivitas di lingkungan kerja.(kliksumut.com/swisma)

KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Tingginya produktifas dengan pekerjaan yang padat dijalani karyawan, tidak jarang bisa mengganggu konsentrasi dan turunnya stamina karena lelah. Kondisi ini sudah tentu bisa mempengaruhi sulit fokus dalam bekerja.

Untuk mencegah dan mengurangi stres kerja pada karyawan diperlukan peran Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi dalam mendeteksi dan mengatasi stres serta gangguan kesehatan akibat kerja.

Padahal keluhan itu bisa mempengaruhi tekanan darah tinggi, gula darah dan menjadi tanda awal masalah kesehatan metabolik, kolesterol yang tidak terkendali, atau obesitas yang berkembang tanpa gejala mencolok.

BACA JUGA: Waspadai Gejala Stroke, Spesialis Bedah Saraf RS Columbia Asia Hospital Medan Ingatkan Masyarakat Kenali Sinyalnya

Hal tersebut mengemuka dalam media gathering kesehatan yang digelar Columbia Asia Hospital Medan, Kamis (27/8/2026).

Pada kegiatan itu membahas kaitan kondisi metabolik pekerja dengan keselamatan dan produktivitas di lingkungan kerja bersama Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Columbia Asia Hospital Medan, dr. Muhammad Rizqi Nasution, MKK, SpOk.

Menurut Rizqi, kondisi metabolik berdampak langsung pada kemampuan seseorang bekerja secara optimal.

Untuk itu, kata Rizqi perusahaan bisa menyediakan layanan  kesehatan kerja baik mental dan fisik guna mencegah serta mengurangi stres kerja pada karyawan.

Bacaan Lainnya

Langkah ini tentu diharapkan bisa mengurangi rasa lelah dan lebih fokus dalam bekerja, sehingga akan meningkatkan kinerja karyawan.

Disebutkannya, pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) bagi pekerja jangan hanya dipandang sebagai kegiatan untuk menggugurkan kewajiban atau sekadar formalitas perusahaan.

Selain itu juga agar MCU tidak berhenti pada pemeriksaan dan keluarnya hasil laboratorium.

“Hasil pemeriksaan itu hendaknya menjadi rapor kesehatan pekerja yang menggambarkan kondisi kesehatan pekerja sekaligus menjadi dasar bagi pekerja dan perusahaan dalam mengambil langkah pencegahan,” ungkapnya.

Karena itu dia mengimbau perusahaan tidak menjadikan MCU sebagai kegiatan tahunan yang selesai setelah hasil pemeriksaan dibagikan kepada pekerja.

Dia menilai hasil pemeriksaan perlu ditindaklanjuti melalui edukasi, konsultasi dan langkah pencegahan sesuai dengan faktor risiko masing-masing pekerja.

“Jangan sampai menunggu sakit baru berobat. Minimal satu tahun sekali datang ke rumah sakit untuk konsultasi dan mengetahui risiko apa yang bisa dideteksi lebih awal,” ujarnya.

Menurut Rizqi, perusahaan yang menyediakan pemeriksaan kesehatan kerja telah membantu pekerja mengenali kondisi tubuhnya sehingga mengetahui dan bisa mencegah kelebihan beban kerja agar tidak mudah lelah dan bisa fokus bekerja.

Dia juga mengingatkan agar keluhan seperti mudah lelah, sulit berkonsentrasi dan menurunnya stamina tidak dianggap sebagai hal biasa.

Menurutnya, kelelahan merupakan alarm dari tubuh. Pekerja yang bekerja dalam kondisi lelah dan kehilangan fokus akan lebih rentan melakukan kesalahan maupun mengalami kecelakaan kerja.

Dikatakannya, mudah lelah itu alarm dari tubuh. Ketika seseorang bekerja dalam kondisi lelah dan tidak fokus, bukan hanya produktivitas saja yang menurun, tetapi juga bisa mengancam keselamatan diri dan orang lain di tempat kerja

Dia menyebutkan, banyak faktor yang menjadi pemicu kelelahan, mulai dari jam kerja yang berlebihan, kebiasaan lembur tanpa memperhatikan kemampuan tubuh, hingga kurangnya waktu istirahat.

Tubuh membutuhkan waktu untuk melakukan pemulihan setelah bekerja. Karena itu, pola kerja yang tidak diimbangi dengan istirahat cukup dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Dijelaskannya waktu bekerja itu maksimal 8 jam per hari atau 40 jam per minggu, dan 170 jam per bulan.

“Kalau lelah dibiarkan terus-menerus, risikonya dapat berkembang menjadi berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya. Karena sel-sel di dalam tubuh juga membutuhkan istirahat,” paparnya.

Rizqi mengatakan, potensi bahaya di tempat kerja tidak hanya berasal dari lingkungan fisik, tetapi juga dapat dipengaruhi cara seseorang bekerja. Karena itu, dalam kedokteran okupasi terdapat beberapa langkah pencegahan yang dapat diterapkan.

Pertama eliminasi, yakni menghilangkan sumber bahaya apabila memungkinkan. Kedua, rekayasa teknis, misalnya memperbaiki atau menyesuaikan peralatan kerja seperti meja dan kursi dengan kondisi serta kebutuhan pekerja.

Ketiga, pengendalian administratif, antara lain melalui pengaturan jam kerja dan waktu istirahat. Pekerja juga perlu diberikan kesempatan melakukan break secara berkala, termasuk melakukan peregangan untuk mencegah keluhan otot dan rangka.

Keempat, penggunaan alat pelindung diri (APD) sesuai dengan jenis dan tingkat risiko pekerjaan.

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), kata Rizqi tidak semata-mata menjadi pengeluaran perusahaan, melainkan investasi untuk melindungi pekerja sekaligus menjaga keberlangsungan produktivitas perusahaan.

Pelayanan kedokteran okupasi di Columbia Asia Hospital Medan tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kesehatan umum, tetapi juga dapat disesuaikan dengan risiko pekerjaan masing-masing pekerja.

Layanan tersebut antara lain meliputi medical check-up berbasis risiko pekerjaan, penilaian lingkungan kerja, serta penilaian kesiapan kembali bekerja setelah kecelakaan kerja maupun setelah mengalami sakit berat.

“Setiap pekerjaan, baik formal maupun informal, sebenarnya bisa memanfaatkan layanan kedokteran okupasi. Karena setiap pekerjaan memiliki potensi risiko kesehatan yang berbeda,” ujarnya.

CEO Columbia Asia Hospital Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE, CPCCP, menilai perusahaan perlu memandang kesehatan pekerja sebagai bagian tingkat produktifitas individu dan performa profit dari Perusahaan tersebut.

BACA JUGA: 72,2 Persen Tumor Otak Usia Produktif, Dokter Saraf di Columbia Asia Medan Ini Ungkap Gejala dan Cara Pencegahannya

“Melalui layanan kesehatan kerja yang komprehensif mencakup medical check-up, deteksi dini risiko metabolik, serta pendampingan kesehatan berkelanjutan, kami ingin menjadi mitra dunia usaha dalam membangun tenaga kerja yang sehat dan produktif,” ujarnya.

Columbia Asia Hospital Medan menyediakan layanan kesehatan kerja bagi perusahaan, meliputi medical check-up karyawan, skrining risiko metabolik, konsultasi dokter spesialis kedokteran okupasi, serta tindak lanjut bagi pekerja dengan hasil pemeriksaan di luar batas normal

Dia berpesan bagi pekerja,
lelah yang terus berulang layak diperiksa, terutama bila disertai perubahan berat badan, mudah haus, sering buang air kecil, pusing, atau daya tahan tubuh yang menurun.

“Keluhan itu tidak bisa dipakai untuk mendiagnosis diri sendiri, tetapi cukup menjadi alasan untuk berkonsultasi,” ujarnya. (KSC)

Reporter: Swisma

Pos terkait