HAMPARAN PERAK | kliksumut.com – Disumatera Utara masih banyak lokasi bersejarah dan bisa dijadikan tempat wisata. Seperti daerah desa Bulu Cina Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Daerah Bulu Cina banyak bangunan peninggalan Belanda seperti bangunan PTPN II Tembakau Deli, bangunan sumur bor yang menghasilkan air panas dan air yang higienes, pergudangan tembakau, perumahan zaman Belanda yang arsitekturnya masih seperti asalnya.
Iwan (40) warga Kota bangun Kecamatan Medan Deli mengatakan, Perkampungan Desa Bulu Cina ini masih asri dan terlihat sekali bangunan bersejarahnya. Dan sepertinya daerah ini layak dijadikan objek wisata. Sekaligus bisa jadi pembelajaran bagi para generasi muda, untuk tahu sejarah. Sabtu 17 Agustus 2018 saat ditemui disebuah rumah dinas Kepala Rayon Bulu Cina PTPN II yang tak ditempati lagi.
Dikatakannya, Kalau kita melihat bangunan ini sepertinya, kita seperti melihat masa lalu. Dimana para kolonial Belanda berkuasa dinegeri yang kita cintai ini. “Dan kita juga harus bangga pada mereka, karena berbagai peninggalan mereka masih tetap berdiri kokoh bangunannya” ujarnya.
Namun, kalau dilihat dari spritual disetiap bangunan ini menampilkan keseraman yang sangat dahsyat. “Sepertinya didaerah ini banyak sekali penyiksaan sehingga menyebabkan kematian yang tak wajar” terang Iwan yang bisa menerawang alias bisa spritual.
Hal senada juga dikatakan, Safina (27) warga kelambir 5 kecamatan Hamparan Perak yang juga bisa melihat spritual mengatakan bahwa dirumah salah seorang Kepala Rayon Bulu Cina yang tak ditempati terlihat penampakkan None Belanda serta anak-anaknya, didapur terlihat tempat penyiksaan dan pembunuhan.
Sementara itu, ujarnya digudang pemeraman Tembakau Deli PTPN II diBulu Cina yang dibangun pada tahun 1920 jika dilihat dari spritual dilokasi dulunya menjadi tempat penyiksaan dan pembantain serta sampai kepada pembunuhan. Diareal sumur bor daerah Bulu Cina terlihat banyak mahkluk gaib berupa gunderuwo serta ada siluman ular bermestika.
Oleh sebab itu, harapnya sebaiknya pemerintah menjadikan lokasi bulu cina itu jadi objek wisata dan tempat bersejarah. Agar kelak kita tahu mana-mana saja tempat sejarah yang ada diRepublik ini khususnya diSumatera Utara terlebih dibulu cina.
Sementara itu, Fauzan (11) seorang Ju Jitsan warga kota Medan yang senang melihat bangunan bersejarah mengatakan, sebaiknya peninggalan bersejarah ini harus dijaga dan pemerintah. Jangan merusaknya sampai kepada merubah bentuk semula. “Karena kami ingin tahu bagaimana para pejuang mengambil kembali kemerdekaan dari penjajah belanda” harap Fauzan Siswa kelas 6 SD Raihan School.
Lanjutnya, jika pengetahuan itu disertai dengan bangunan yang ada pasti lebih baik lagi. Dan tidak mereka-reka bahwa sejarah itu ada. “Karena kalau diMedan yang ada bangunan bersejarahnya Masjid Raya, Istana Maimon, Chong Api dan menara PDAM Tirtanadi dan untuk rumahnya sudah tak ada lagi terlihat” ujarnya.
Ngadirun (55) pengawai PTPN II yang sudah pensiun tapi masih menjaga rumah dinas dan beberapa tempat bangunan tempat peninggalan Belanda mengatakan. Kalau secara gaibnya saya gak mengerti, memang dirumah dinas ini ada sering terdengar suara tangisan. Sementara itu disumurbor ada suara desis seperti ular. “Tapi, kami berharap walaupun semua itu ada. Kami tak takut, yang diharapkan dari pemerintah bisa melestarikan daerah bulu cina bisa jadi tempat wisata dan tempat bersejarah” harapnya. (Alian)








