KLIKSUMUT.COM | BINJAI – Layanan cuci darah (hemodialisis) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Djoelham Binjai lumpuh total, Sabtu (10/10/2026). Kelumpuhan fasilitas vital ini dipicu oleh kekosongan alat medis habis pakai, (BMHP) yang berbuntut pada aksi protes keras dari keluarga pasien gagal ginjal yang telantar sejak pagi.
Alih-alih memberikan solusi medis darurat, pihak manajemen rumah sakit milik Pemerintah Kota Binjai tersebut memilih bungkam. Puluhan pasien kritis, yang sebagian besar berasal dari wilayah pelosok, dipaksa pulang secara sepihak tanpa adanya jaminan keselamatan jiwa.
BACA JUGA: Tak Cuma Formalitas, Begini Strategi Baru BNNK Binjai Ciptakan Sekolah Bebas Narkoba
Kronologi Pengusiran Halus Pasien Cuci Darah
Ketiadaan perlengkapan medis yang terjadi secara mendadak memicu kemarahan mendalam keluarga pasien yang telah mengantre sejak pagi hari. Bagi penderita gagal ginjal, prosedur hemodialisis merupakan tindakan krusial penyambung nyawa yang tidak dapat ditunda.
”Kami diminta pulang dulu dan diminta datang kembali sekitar jam 03.00 siang ini,” ujar Sekar saat dikonfirmasi di lokasi kejadian, Sabtu (10/10/2026), seorang anak pasien cuci darah, membenarkan adanya insiden keributan dan pengusiran halus dari pihak rumah sakit di lokasi kejadian. Warga yang mayoritas berasal dari pelosok Kecamatan Bahorok (70 km) jarak tempuhnya ke RSUD) Dr. Djoelham terbukti diminta kembali ke rumah masing-masing.
BACA JUGA: Tutup Celah Praktik Titipan, Mutasi Massal 76 Kepala Sekolah di Binjai Dikunci Sistem Merit Digital
Tindakan manajemen ini dinilai sangat memberatkan kelangsungan hidup pasien. Sebagian besar warga yang telantar merupakan pasien dari wilayah pelosok, seperti Kecamatan Bahorok, yang harus menempuh jarak sekitar 70 kilometer untuk mencapai rumah sakit.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen RSUD Dr. Djoelham Binjai belum memberikan keterangan resmi terkait kelangkaan BMHP tersebut. (KSC)
Reporter: Dody Ariandi








