Sejumlah Ilmuwan Lakukan Penelitian Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami di Jawa Timur

Sejumlah Ilmuwan Lakukan Penelitian Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami di Jawa Timur
Seorang pria menyelamatkan barang miliknya di sebuah rumah yang rusak akibat gempa bumi di Lumajang, Jawa Timur, 11 April 2021. (Foto: Antara/Zabur Karuru via REUTERS)

Menyusuri jejak bencana di suatu wilayah dapat menjadi cara memitigasi bencana yang mungkin terjadi di masa mendatang. Ekspedisi Jawadwipa ingin menelusuri sesar aktif di Pulau Jawa untuk mengungkap kemampuan masyarakat di masa lampau dalam menghadapi bencana.

SURABAYA, JAWA TIMUR | kliksumut.com Sebanyak 13 orang peneliti dari berbagai disiplin ilmu melakukan penelusuran jejak bencana di Jawa Timur mulai November hingga Desember 2022. Penelusuran tersebut digarap oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Skala Indonesia yang menggandeng sejumlah pihak. Mereka menyebut perjalanan ini sebagai Ekspedisi Jawadwipa.

Ketua Tim Ekspedisi Jawadwipa, Trinirmalaningrum, mengatakan ekspedisi tersebut ingin menggali berbagai jejak sejarah kebencanaan, kearifan lokal, hingga pesan yang ada di masyarakat dari generasi sebelumnya. Ekspedisi itu kata Trinirmalaningrum, diharapkan dapat menjadi sumber literasi serta dasar bagi pemerintah untuk meminimalkan risiko bencana di kalangan masyarakat.

“Kami berharap ekspedisi ini menjadi bagian untuk mendorong bahwa literasi bencana ini perlu digalakkan kembali, pengetahuan lokal perlu dihidupkan kembali. Dihidupkan dalam artian untuk mengenal ulang,” katanya yang dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com.

BACA JUGA: Gempa 6,0 SR Guncang Taput, Gubernur Sumut Kirim Bantuan dan Tim Tanggap Bencana

Penggalian hal-hal tersebut secara dalam, ujar Trinirmalaningrum, diharapkan dapat dijadikan landasan pemerintah untuk mengurangi risiko bencana berbasis komunitas dan menjadi bahan literasi.

Tim ekspedisi melakukan penelurusan jejak sejarah kebencanaan di delapan kabupaten/kota di Jawa Timur, di antaranya Malang, Banyuwangi, Bondowoso, Surabaya, Mojokerto, dan Tuban, sebagai tahap awal. Sebelumnya, tim telah melakukan kegiatan yang sama di Palu, Sulawesi Tengah, serta beberapa wilayah di Banten. Menurut Trinirmalaningrum, pendekatan kebencanaan saat ini tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, melainkan juga peningkatan kemampuan masyarakat untuk menghadapi potensi bencana yang ada di sekitarnya.

“Itu yang menurut saya pendekatannya terlalu banyak pendekatan teknologi yang jumlah uangnya besar, bahkan kita perlu utang hanya untuk membeli sekian peralatan yang sangat mahal. Padahal invenstasi yang menurut saya tidak terlalu mahal adalah peningkatan kapasitas masyarakat, dan itu bisa berjenjang,” paparnya.

Pengenalan kawasan rawan bencana selain dari catatan sejarah atau data lembaga kembencanaan, juga dapat melalui kebiasan serta kearifan lokal yang ada di suatu wilayah. Menurut geolog dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo, selain tanda-tanda yang dapat dideteksi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, kebiasaan masyarakat yang kemudian menjadi budaya sebenarnya merupakan tanda adanya peristiwa penting pada masa lampau yang harus diwaspadai bersama masyarakat masa kini.

“Itu misalnya labuhan, larung sesaji, itu sebetulnya adalah suatu kearifan lokal yang ditujukan, pada waktu itu mereka menandai bahwa tempat itu pernah mengalami sesuatu masalah, misalnya di pantai tadi ada suatu ombak besar yang menyebabkan banyak kematian, dan lain sebagainya. Sehingga pada waktu itum mereka melakukan sesaji, labuhan, dan lain sebagainya. Jadi, pada hari itu, jam itu terjadi hal yang sama. Jadi, orang zaman dulu hanya bisa begitu memberi peringatan kepada generasi berikutnya,” papar Amien.

Pos terkait