Rumah Pangan B2SA Bapanas Sukses Dukung MBG, TP PKK Desa Sejegi Jadi Pemasok Nugget Bergizi untuk SPPG

Rumah Pangan B2SA Bapanas Sukses Dukung MBG, TP PKK Desa Sejegi Jadi Pemasok Nugget Bergizi untuk SPPG
Program Rumah Pangan B2SA yang digagas Badan Pangan Nasional atau Bapanas kembali menunjukkan dampak nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

KLIKSUMUT.COM | MEMPAWAH – Program Rumah Pangan B2SA yang digagas Badan Pangan Nasional atau Bapanas kembali menunjukkan dampak nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Kali ini, keberhasilan datang dari Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, di mana kelompok binaan Rumah Pangan B2SA berhasil menjadi pemasok bahan pangan olahan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa penguatan konsumsi pangan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru berbasis pangan lokal yang berkelanjutan.

Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto mengatakan keterlibatan kelompok masyarakat dalam rantai pasok program MBG telah memberikan efek domino positif terhadap ekonomi pedesaan.

“Program Rumah Pangan B2SA diharapkan tidak hanya menjadi sarana edukasi konsumsi pangan bergizi, tetapi juga mampu tumbuh menjadi penggerak ekonomi masyarakat desa. Ketika kelompok binaan dapat terhubung dengan kebutuhan program MBG melalui SPPG, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari peningkatan pendapatan hingga penguatan usaha pangan lokal berbasis potensi daerah,” ujar Andriko di Jakarta, dikutip Rabu (13/5/2026)..

Kelompok TP PKK Desa Sejegi, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, sebagai penerima manfaat Rumah Pangan B2SA Tahun 2025 kini memproduksi nugget ikan nila dan nugget ayam untuk memenuhi kebutuhan program MBG di wilayah tersebut. Produk pangan olahan itu diproses secara rumahan (home made) dengan mengutamakan kualitas bahan baku, kebersihan, dan kandungan gizi.

BACA JUGA: Harga MinyaKita di Medan Tembus Rp22 Ribu per Liter, DPRD Desak Pemko Gelar Operasi Pasar

Saat ini, produk nugget buatan TP PKK Desa Sejegi telah memasok kebutuhan lima SPPG mitra dengan total penjualan mencapai 17.200 pcs atau setara 430 kilogram per bulan. Produksi dilakukan hampir setiap hari demi memenuhi tingginya permintaan program MBG.

Kegiatan produksi melibatkan ibu-ibu anggota kelompok mulai dari tahap persiapan bahan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi. Aktivitas tersebut terbukti mampu meningkatkan pendapatan kelompok sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi produktif di lingkungan masyarakat desa.

Bacaan Lainnya

Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal mengapresiasi capaian TP PKK Desa Sejegi yang dinilai menjadi contoh sukses pemberdayaan masyarakat berbasis pangan lokal.

“Ini menjadi contoh bahwa pangan lokal bisa diolah menjadi produk yang berkualitas, disukai anak-anak, sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat desa. Kami berharap keberhasilan TP PKK Desa Sejegi dapat menginspirasi kelompok lain di 75 titik Rumah Pangan B2SA untuk terus mengembangkan potensi pangan lokal di daerahnya,” ujar Rinna.

Menu MBG berbahan nugget hasil olahan TP PKK Desa Sejegi kini disajikan sebanyak empat kali dalam sebulan di SPPG mitra. Permintaan produk diperkirakan akan terus meningkat seiring meningkatnya kebutuhan pangan bergizi untuk mendukung program MBG.

BACA JUGA: Perkuat Literasi Keuangan Digital, OJK Ajak Mahasiswa Pahami Kripto dan Tokenisasi Aset

Tidak hanya berhasil mengembangkan usaha pangan lokal, kelompok TP PKK Desa Sejegi juga telah mengantongi legalitas usaha berupa SPPL, NIB, dan sertifikat halal. Saat ini, kelompok tersebut tengah mengurus izin edar BPOM guna memperluas jangkauan pemasaran dan meningkatkan daya saing produk pangan olahan lokal.

Meski demikian, keterbatasan perlengkapan produksi masih menjadi tantangan utama. Kondisi tersebut membuat proses produksi membutuhkan waktu lebih lama sehingga dukungan sarana dan prasarana produksi dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas usaha kelompok.

Melalui program Rumah Pangan B2SA, Bapanas terus mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis pangan lokal demi menciptakan sistem pangan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat Indonesia. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait